Jenazah Tihwin Korban KM Virgo Transport 8 Tiba di Kare Madiun, Tangis Keluarga Pecah
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 32 menit yang lalu
- visibility 21
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Isak tangis keluarga pecah saat peti jenazah Tihwin Nuryanto (43), korban insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8, tiba di kampung halamannya di Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Selasa (29/9/2026).
Peti jenazah Tihwin diturunkan dari ambulans dan dibawa menuju masjid di dusun setempat untuk disalatkan sebelum dimakamkan. Tangis keluarga semakin pecah ketika sejumlah anak Tihwin melihat peti jenazah ayah mereka diusung menuju masjid.
Tihwin ditemukan setelah 13 hari pencarian di tengah operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8. Namun, proses identifikasi jenazah membutuhkan waktu karena kondisi tubuh korban mengalami kerusakan.
Darsiyanto, perwakilan keluarga Tihwin, mengatakan pihak keluarga menerima kepulangan Tihwin dengan duka mendalam. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pencarian hingga pemulangan jenazah.
“Dari keluarga hanya bisa mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan amal baik semuanya dibalas kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Darsiyanto.
Menurut Darsiyanto, berdasarkan penjelasan tim DVI Polda Jawa Timur dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, jenazah Tihwin sebenarnya ditemukan dalam waktu yang tidak jauh berbeda dengan kakaknya, Taruno Hidayat.
Namun, kondisi jenazah Tihwin yang lebih rusak membuat proses identifikasi membutuhkan waktu lebih lama.
“Menurut tim DVI Polda Jatim dan Dinsos Provinsi Jawa Timur, memang kondisi tubuhnya sudah agak rusak. Sebetulnya ditemukan sama dengan Mas Taruno, cuma karena kondisinya lebih parah, maka ada kendala identifikasi,” ujarnya.

Setelah disalatkan bersama keluarga dan warga, jenazah Tihwin kemudian dimakamkan di TPU Seweru, Desa Kare. Makam Tihwin berada bersebelahan dengan makam sang kakak, Taruno, yang lebih dahulu dimakamkan dua hari sebelumnya.
Tihwin dan Taruno merupakan dua bersaudara asal Desa Kare yang menjadi korban insiden KM Virgo Transport 8. Keduanya berangkat menuju Kalimantan pada 10 September 2026.
Perjalanan itu dilakukan bukan sekadar untuk bepergian. Tihwin hendak membawa dan menjual sayuran hasil bumi dari Desa Kare ke Banjarmasin untuk menambah penghasilan keluarga.
Sehari-hari, Tihwin bekerja sebagai tenaga ahli dekorasi pada event organizer dan wedding organizer. Ia juga memiliki kendaraan pikap yang biasa digunakan untuk menunjang kebutuhan keluarga sekaligus mengangkut sayuran dalam perjalanan menuju Kalimantan.
Sementara Taruno sehari-hari bekerja sebagai guru PPPK. Ia berangkat ke Kalimantan untuk mencari tambahan penghasilan bagi keluarganya. Tihwin kemudian ikut mendampingi sang kakak dalam perjalanan tersebut.

Kepergian Tihwin meninggalkan seorang istri dan empat anak. Anak-anaknya masih menjalani pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga perguruan tinggi.
Darsiyanto berharap keluarga yang ditinggalkan mendapat perhatian dan bantuan dari pihak terkait, terutama untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak Tihwin.
“Harapannya tidak hanya korban, karena keluarganya juga sangat membutuhkan bantuan dari pihak terkait untuk keluarga korban,” tuturnya.
Ia menyebut kebutuhan pendidikan menjadi salah satu perhatian utama keluarga. Sebab, seluruh anak korban masih berada dalam jenjang pendidikan.
“Termasuk pendidikan anak, karena semua masih dalam tahap sekolah, baik dari TK, SD, SMP, dan kuliah,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





