Krisis Air Bersih Melanda Wungu Madiun, Warga Terpaksa Begadang demi Menampung Air PDAM
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 33
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Krisis air bersih mulai membebani kehidupan ratusan warga Kelurahan Wungu, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di tengah musim kemarau yang diperparah fenomena El nino pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) justru semakin sulit diandalkan. Warga bahkan terpaksa begadang hingga dini hari hanya untuk menampung air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari sebulan. Ironisnya, mayoritas warga terdampak merupakan pelanggan PDAM yang selama ini mengandalkan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih rumah tangga.
Alih-alih mengalir sepanjang hari, air PDAM di wilayah tersebut hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu, yakni sekitar pukul 00.00 hingga 04.00 WIB. Itu pun dengan debit yang kecil dan tidak selalu mengalir lancar.
Wahyuni (47), warga RT 6 RW 1 Kelurahan Wungu, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya akibat kondisi tersebut. Menurut dia, gangguan pasokan air tahun ini berlangsung lebih lama dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya tidak sampai seperti ini lamanya. Air PDAM macet, kalau mengalir itu hanya malam, sekitar jam 12 sampai setengah 4 pagi. Setelah itu habis, tidak ada air lagi sampai malam berikutnya,” ujar Wahyuni, Jumat.
Terbatasnya pasokan air membuat warga harus mengatur penggunaan air secara ketat. Kebutuhan mendasar seperti memasak, mencuci, mandi, hingga keperluan sanitasi terpaksa dipenuhi dengan persediaan air seadanya.
Wahyuni mengatakan, keluarganya kini lebih memprioritaskan air untuk minum dan kebutuhan anak-anak, terutama untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Sementara kebutuhan lainnya harus disesuaikan dengan jumlah air yang tersedia.
“Ya diirit-irit untuk keperluan sehari-hari. Yang penting untuk minum dan anak-anak mandi pagi sebelum sekolah,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih dari tangki menjadi salah satu sumber pasokan alternatif bagi warga. Sejumlah ember dan galon disiapkan untuk menampung air bantuan agar bisa digunakan saat aliran PDAM kembali terhenti.
BPBD Kabupaten Madiun telah menurunkan sebanyak 2 tandor air yang berkapasitas 1200 Liter per tandon untuk di Kelurahan Wungu. Sedangkan pasokan air bersih nantinya akan didistribusikan oleh PDAM, BBWS dan Satuan Batalyon 532.

Kondisi serupa dirasakan Winarni (48), warga setempat. Ia mengaku harus mengorbankan waktu istirahat demi mendapatkan pasokan air dari jaringan PDAM yang baru mengalir saat tengah malam.
Menurut Winarni, air biasanya mulai mengalir sekitar pukul 00.00 WIB dan kembali berhenti sekitar pukul 04.00 WIB. Agar tidak kehilangan kesempatan menampung air, ia terpaksa terjaga hingga dini hari.
“Ya itu, tidak tidur. Tidurnya nanti kalau sudah penuh baru tidur. Paling tidak tidur setengah 3 pagi, karena airnya jam 12 hidup, mati jam 4,” tutur Winarni.
Ia menduga berkurangnya pasokan air berkaitan dengan semakin menipisnya sumber resapan air akibat musim kemarau. Namun, kondisi tahun ini dinilai jauh lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya.
Winarni berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Sebab, keterbatasan air bersih tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga memaksa warga mengubah pola istirahat demi mendapatkan pasokan air. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





