13 Hari Menanti, Jenazah Taruno Korban KM Virgo Transport 8 Akhirnya Pulang ke Kare Madiun
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 59 menit yang lalu
- visibility 29
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Setelah 13 hari menunggu kabar, keluarga akhirnya bisa memeluk kepulangan Taruno Hidayat (46), meski dalam sebuah peti jenazah.
Tangis pecah saat peti jenazah korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 itu tiba di kampung halamannya, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Sabtu (26/9/2026).
Peti jenazah yang diangkut menggunakan ambulans tiba di Masjid Baitul Muttaqin. Keluarga dan kerabat yang sejak pagi menunggu langsung menyambut dengan isak tangis.
Jenazah Taruno kemudian disholatkan di masjid tersebut. Ratusan warga dan kerabat ikut mengiringi salat jenazah sebelum almarhum dibawa ke pemakaman Dusun Seweru, Desa Kare.
Dantim Basarnas Surabaya Gian Ery Pramulya mengatakan, jenazah Taruno ditemukan di perairan Masalembo pada Jumat (25/9/2026). Namun, jenazah baru dipulangkan setelah proses identifikasi memastikan bahwa korban merupakan Taruno Hidayat.
“Setelah koordinasi dan ditemukan kondisi yang memperjelas bahwa beliau memang Mas Taruno Hidayat, dari pakaian dan keterangan pihak keluarga, akhirnya dikeluarkan nota dari DVI bahwa itu memang Pak Taruno Hidayat,” kata Gian.

Setelah proses identifikasi selesai, jenazah diterbangkan dari Banjarmasin menuju Surabaya pada Sabtu pagi. Pemulangan kemudian dikoordinasikan bersama Basarnas, DVI Banjarmasin, kepolisian, BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Madiun, Dinsos Jawa Timur, dan AirNav.
“Langsung kami dari pihak Basarnas dan pemerintah yang telah membantu, baik itu dari kepolisian, DVI Banjarmasin, BPBD Jawa Timur, dan juga dari Provinsi Jawa Timur, kami serahkan ke pihak keluarga,” ujarnya.
Bagi warga Kare, Taruno bukan sekadar korban kecelakaan kapal. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, aktif dalam kegiatan masyarakat, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Salah satu kerabat Taruno, Afif Izzudin, mengatakan almarhum kerap memberikan nasihat kepada anak-anak muda dan membantu warga yang sedang mengalami kesulitan.
“Pak Taruno itu semasa hidupnya orangnya baik. Sama teman akrab, ramah, terus sering memberikan nasihat kepada kita yang masih muda. Orangnya supel, kalau ada yang kesusahan suka membantu,” kata Afif.

Taruno sehari-hari berprofesi sebagai guru. Ia juga aktif sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kare.
Di bidang kepemiluan, Taruno pernah menjadi anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Pada Pilkada 2024, ia dipercaya menjadi Ketua PPK Kecamatan Kare.
“Kalau keseharian, beliau guru dan juga anggota BPD Desa Kare. Ketika ada Pilkada, beliau menjadi salah satu PPK. Tahun 2024 beliau menjadi Ketua PPK Kecamatan Kare,” ujar Afif.
Menurut Afif, Taruno juga dikenal dekat dengan warga dan hampir selalu terlibat dalam kegiatan sosial di desanya.
“Kalau sosialnya baik. Ada kegiatan apa pun selalu ikut, sama warga juga dekat,” tuturnya.
Taruno meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Kepulangannya ke Kare setelah 13 hari pencarian memang mengakhiri penantian keluarga terhadap dirinya.
Sebab, adik kandung Taruno, Tihwin Nuryanto (43), yang berangkat bersamanya ke Kalimantan hingga kini belum ditemukan.
Keduanya sebelumnya berpamitan kepada keluarga untuk pergi ke Kalimantan mengantarkan dan berdagang sayuran. Namun perjalanan tersebut berubah menjadi tragedi setelah KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Masalembo.
Kini Taruno telah kembali ke Kare dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Sementara keluarga masih menunggu satu kabar lagi—tentang Tihwin, adik yang pergi bersama Taruno dan hingga kini belum kembali. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





