Berita Terkini
Trending Tags

Dosen IPB Dampingi Peternak Domba Kenali Kecacingan hingga Uji Ekstrak Akasia

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • visibility 199
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Peternak memeriksakan kondisi domba secara langsung. Foto : Istimewa

Sinergia | Bogor — Kecacingan menjadi salah satu persoalan yang dapat menggerus produktivitas dan efisiensi usaha peternakan domba. Gangguan parasit yang tidak terdeteksi sejak dini dapat menyebabkan pertumbuhan ternak melambat, pemanfaatan pakan tidak optimal, masa pemeliharaan lebih panjang, hingga meningkatkan biaya produksi.

Untuk membantu peternak mengenali gangguan tersebut sekaligus mencari alternatif pengendalian, dosen IPB University melakukan pendampingan di Kandangku Farm, Bogor, pada 17 Agustus 2026. Kegiatan ini menggabungkan pelatihan deteksi gejala klinis dengan pengenalan hasil riset berbasis tanaman sebagai kandidat pengendali kecacingan.

Kegiatan melibatkan Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, Dr. drh. Dwi Budiono, dan Dr. Novia Amalia Sholeha bersama kelompok ternak Kandangku Farm yang diketuai Ahmad Rizal Fahmi, S.P. Program tersebut dilaksanakan melalui Pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Sebanyak 10 peternak diajak memeriksa sekitar 30 ekor domba secara langsung dengan pendampingan dosen dan dokter hewan. Pemeriksaan meliputi bobot badan, kondisi rambut, mukosa mata, gejala bottle jaw, serta pengambilan sampel feses. Peternak juga diperkenalkan dengan sejumlah perubahan kondisi tubuh yang dapat menjadi indikasi gangguan parasit, seperti pertumbuhan yang lambat, bulu kusam, perubahan feses, dan pucat pada selaput mata.

Dr. drh. Dwi Budiono menjelaskan bahwa bottle jaw menjadi salah satu tanda yang cukup kuat untuk diperhatikan dalam pemeriksaan lapangan. Dalam kegiatan tersebut, tim juga melakukan pengukuran bagian dagu untuk melihat keterkaitannya dengan tingkat kecacingan dan jumlah telur cacing.

Pendekatan praktik dinilai membuat peternak lebih mudah memahami tanda-tanda yang sebelumnya sulit dibedakan.

Ketua Kelompok Ternak Kandangku Farm Ahmad Rizal Fahmi mengatakan pelatihan lapangan memberikan pengalaman langsung bagi peternak dalam mengamati kondisi ternak.

“Penentuan kecacingan susah dilakukan, namun dengan pelatihan lapang peternak segera paham, karena peternak belajar secara praktik langsung,” ujar Fahmi.

Fahmi menambahkan, beberapa gejala relatif mudah dikenali, sementara perubahan pada rambut dan mukosa mata membutuhkan pengalaman lebih banyak.

“Gejala bottle jaw mudah diamati, namun untuk kulit kusam dan mukosa mata perlu jam terbang lebih,” katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan sehingga peternak semakin mampu membedakan kecacingan dengan gangguan kesehatan lainnya.

Bagi peternak, kecacingan bukan sekadar masalah kesehatan hewan. Infeksi parasit dapat berpengaruh langsung terhadap produktivitas ternak dan biaya yang harus dikeluarkan selama masa pemeliharaan.

Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko mengatakan pengendalian kecacingan perlu ditempatkan dalam perspektif produksi dan ekonomi peternakan. Domba yang mengalami gangguan parasit berpotensi mengalami penurunan performa sehingga pakan yang diberikan tidak menghasilkan pertambahan bobot badan sesuai potensi ternak. Akibatnya, masa pemeliharaan dapat menjadi lebih panjang dan biaya produksi meningkat.

Selain mengajarkan deteksi dini, tim IPB University memperkenalkan demo plot pengujian ekstrak kulit kayu Acacia mangium sebagai kandidat bahan alami untuk membantu pengendalian kecacingan.

Image Not Found
Uji ekstrak kulit akasia untuk pengendalian kecacingan. Foto : Istimewa

Ekstrak tersebut dikembangkan berdasarkan riset yang berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik dan tanin pada kulit kayu akasia. Dalam uji awal, 24 ekor domba dibagi ke dalam sejumlah kelompok, mulai dari kelompok kontrol, pemberian obat cacing biasa, kombinasi obat cacing dengan ekstrak akasia, hingga pemberian ekstrak akasia secara penuh.

Dr. Tekad mengatakan penggunaan bahan alami tersebut masih berada dalam tahap pengujian sehingga efektivitasnya belum dapat disimpulkan.

“Ekstrak akasia memiliki tanin yang terbukti mampu berperan sebagai anthelmintic. Penggunaan ekstrak akasia diharapkan dapat mengurangi kebutuhan anti-cacing sintetis,” jelas Dr. Tekad.

Uji tersebut akan dipantau selama tiga bulan. Parameter yang diamati antara lain pertambahan bobot harian, gejala klinis, dan jumlah telur cacing. Dengan demikian, ekstrak akasia yang diperkenalkan kepada peternak belum diposisikan sebagai pengganti obat cacing, melainkan sebagai kandidat yang masih perlu dibuktikan efektivitas dan penerapannya melalui pengujian lebih lanjut.

Pendampingan juga mencakup pelatihan ekstraksi sederhana menggunakan metode maserasi dan penggodokan kulit kayu akasia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membawa hasil riset kampus lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Dr. Novia Amalia Sholeha mengatakan penerapan hasil penelitian di tengah masyarakat penting agar inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat secara lebih luas.

“Aplikasi ekstraksi kulit kayu akasia merupakan salah satu pengabdian berdasar riset kampus. Saya berharap lebih banyak lagi produk dan inovasi yang dapat dikenalkan pada masyarakat,” ujar Novia.

Kolaborasi dengan kelompok peternak juga memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk melihat langsung kondisi dan kebutuhan di lapangan. Sebaliknya, peternak memperoleh pengetahuan serta kesempatan untuk mengenal pendekatan pengendalian yang dikembangkan melalui penelitian.

Program tersebut dirancang tidak berhenti setelah pelatihan. Tim IPB University akan melanjutkan pengujian dan pendampingan melalui proses ekstraksi kulit kayu akasia, pemberian ekstrak dalam pakan, pemantauan perkembangan kecacingan, serta penghitungan dampaknya terhadap ekonomi peternak.

Hasil pengamatan nantinya menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kemungkinan perbaikan formulasi perlakuan, pengembangan penelitian, maupun pendampingan lanjutan. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Langkah Tegas Wali Kota Madiun Maidi Tangani Kabel Udara Semrawut di Jalan

    Langkah Tegas Wali Kota Madiun Maidi Tangani Kabel Udara Semrawut di Jalan

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Wali Kota Madiun, Maidi tidak main-main dalam menertibkan kabel udara milik provider internet yang terpasang semrawut di sejumlah ruas jalan. Bahkan, tindakan tegas berupa pemotongan kabel dilakukan bagi provider internet yang berulang kali tidak menggubris peringatan dari Pemerintah Kota Madiun. Selain itu, banyak tiang untuk pemasangan kabel dinilai merusak estetika […]

    Bagikan
  • Tak Wajib tapi Penting, TKA Bisa Jadi Tiket Emas ke Dunia Kampus dan Kerja

    Tak Wajib tapi Penting, TKA Bisa Jadi Tiket Emas ke Dunia Kampus dan Kerja

    • calendar_month Senin, 6 Okt 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas XII jenjang SMA/MA/SMK akan mulai dilaksanakan pada November 2025. Di Ponorogo, sekolah-sekolah kini tengah melakukan pendataan siswa yang berminat mengikuti program tersebut. Kasi SMA/SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Ponorogo–Magetan, Eko Budi Santoso, menjelaskan bahwa TKA merupakan program baru dari Kementerian Pendidikan […]

    Bagikan
  • Pemkot Madiun Siap Awasi Sasaran Program MBG bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita

    Pemkot Madiun Siap Awasi Sasaran Program MBG bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota Madiun bakal melakukan pengawasan terhadap distribusi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MGB). Apalagi, Kota Madiun ditunjuk oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk simulasi MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui hingga balita non PAUD. Hal itu bagian dari upaya untuk mencukupi […]

    Bagikan
  • Petasan Rakitan Meledak! Remaja 13 Tahun Di Ponorogo Terbakar, Begini Kronologinya

    Petasan Rakitan Meledak! Remaja 13 Tahun Di Ponorogo Terbakar, Begini Kronologinya

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Petasan rakitan kembali memakan korban di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Seorang remaja berinisial KA (13), warga Desa Semanding, Kecamatan Jenangan, mengalami luka bakar cukup serius setelah petasan yang dibuatnya gagal meledak dan justru menyambar tubuhnya pada Kamis malam (19/3/2026). Peristiwa nahas itu terjadi saat korban bersama temannya, NA (13), tengah merakit […]

    Bagikan
  • Hari Lahir Kejaksaan RI, Kejari Kota Madiun Gelar Aksi Sosial Donor Darah

    Hari Lahir Kejaksaan RI, Kejari Kota Madiun Gelar Aksi Sosial Donor Darah

    • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Madiun memulai rangkaian kegiatan sosial dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-80 Kejaksaan Republik Indonesia. Pada Selasa (19/08/2025), jajaran Korps Adhyaksa menggelar aksi donor darah serta pemeriksaan kesehatan gratis di Kantor Kejari Kota Madiun. Kepala Kejari Kota Madiun, Dede Sutisna, menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Kejaksaan RI […]

    Bagikan
  • Satgas Pangan Cek Harga Beras di Pasar Pagotan, Pastikan Sesuai HET

    Satgas Pangan Cek Harga Beras di Pasar Pagotan, Pastikan Sesuai HET

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun — Satuan Tugas Pangan (Satgas Pangan) Polres Madiun memastikan harga beras di Pasar Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, masih berada dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET). Pengecekan harga dan ketersediaan beras tersebut dilakukan bersama Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro serta Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Madiun, Jumat (11/9/2026). Kasat Reskrim […]

    Bagikan
expand_less