Minggu, 11 Okt 2026
Trending Tags

Dosen IPB Dampingi Peternak Domba Kenali Kecacingan hingga Uji Ekstrak Akasia

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • visibility 202
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Peternak memeriksakan kondisi domba secara langsung. Foto : Istimewa

Sinergia | Bogor — Kecacingan menjadi salah satu persoalan yang dapat menggerus produktivitas dan efisiensi usaha peternakan domba. Gangguan parasit yang tidak terdeteksi sejak dini dapat menyebabkan pertumbuhan ternak melambat, pemanfaatan pakan tidak optimal, masa pemeliharaan lebih panjang, hingga meningkatkan biaya produksi.

Untuk membantu peternak mengenali gangguan tersebut sekaligus mencari alternatif pengendalian, dosen IPB University melakukan pendampingan di Kandangku Farm, Bogor, pada 17 Agustus 2026. Kegiatan ini menggabungkan pelatihan deteksi gejala klinis dengan pengenalan hasil riset berbasis tanaman sebagai kandidat pengendali kecacingan.

Kegiatan melibatkan Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, Dr. drh. Dwi Budiono, dan Dr. Novia Amalia Sholeha bersama kelompok ternak Kandangku Farm yang diketuai Ahmad Rizal Fahmi, S.P. Program tersebut dilaksanakan melalui Pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Sebanyak 10 peternak diajak memeriksa sekitar 30 ekor domba secara langsung dengan pendampingan dosen dan dokter hewan. Pemeriksaan meliputi bobot badan, kondisi rambut, mukosa mata, gejala bottle jaw, serta pengambilan sampel feses. Peternak juga diperkenalkan dengan sejumlah perubahan kondisi tubuh yang dapat menjadi indikasi gangguan parasit, seperti pertumbuhan yang lambat, bulu kusam, perubahan feses, dan pucat pada selaput mata.

Dr. drh. Dwi Budiono menjelaskan bahwa bottle jaw menjadi salah satu tanda yang cukup kuat untuk diperhatikan dalam pemeriksaan lapangan. Dalam kegiatan tersebut, tim juga melakukan pengukuran bagian dagu untuk melihat keterkaitannya dengan tingkat kecacingan dan jumlah telur cacing.

Pendekatan praktik dinilai membuat peternak lebih mudah memahami tanda-tanda yang sebelumnya sulit dibedakan.

Ketua Kelompok Ternak Kandangku Farm Ahmad Rizal Fahmi mengatakan pelatihan lapangan memberikan pengalaman langsung bagi peternak dalam mengamati kondisi ternak.

“Penentuan kecacingan susah dilakukan, namun dengan pelatihan lapang peternak segera paham, karena peternak belajar secara praktik langsung,” ujar Fahmi.

Fahmi menambahkan, beberapa gejala relatif mudah dikenali, sementara perubahan pada rambut dan mukosa mata membutuhkan pengalaman lebih banyak.

“Gejala bottle jaw mudah diamati, namun untuk kulit kusam dan mukosa mata perlu jam terbang lebih,” katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan sehingga peternak semakin mampu membedakan kecacingan dengan gangguan kesehatan lainnya.

Bagi peternak, kecacingan bukan sekadar masalah kesehatan hewan. Infeksi parasit dapat berpengaruh langsung terhadap produktivitas ternak dan biaya yang harus dikeluarkan selama masa pemeliharaan.

Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko mengatakan pengendalian kecacingan perlu ditempatkan dalam perspektif produksi dan ekonomi peternakan. Domba yang mengalami gangguan parasit berpotensi mengalami penurunan performa sehingga pakan yang diberikan tidak menghasilkan pertambahan bobot badan sesuai potensi ternak. Akibatnya, masa pemeliharaan dapat menjadi lebih panjang dan biaya produksi meningkat.

Selain mengajarkan deteksi dini, tim IPB University memperkenalkan demo plot pengujian ekstrak kulit kayu Acacia mangium sebagai kandidat bahan alami untuk membantu pengendalian kecacingan.

Image Not Found
Uji ekstrak kulit akasia untuk pengendalian kecacingan. Foto : Istimewa

Ekstrak tersebut dikembangkan berdasarkan riset yang berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik dan tanin pada kulit kayu akasia. Dalam uji awal, 24 ekor domba dibagi ke dalam sejumlah kelompok, mulai dari kelompok kontrol, pemberian obat cacing biasa, kombinasi obat cacing dengan ekstrak akasia, hingga pemberian ekstrak akasia secara penuh.

Dr. Tekad mengatakan penggunaan bahan alami tersebut masih berada dalam tahap pengujian sehingga efektivitasnya belum dapat disimpulkan.

“Ekstrak akasia memiliki tanin yang terbukti mampu berperan sebagai anthelmintic. Penggunaan ekstrak akasia diharapkan dapat mengurangi kebutuhan anti-cacing sintetis,” jelas Dr. Tekad.

Uji tersebut akan dipantau selama tiga bulan. Parameter yang diamati antara lain pertambahan bobot harian, gejala klinis, dan jumlah telur cacing. Dengan demikian, ekstrak akasia yang diperkenalkan kepada peternak belum diposisikan sebagai pengganti obat cacing, melainkan sebagai kandidat yang masih perlu dibuktikan efektivitas dan penerapannya melalui pengujian lebih lanjut.

Pendampingan juga mencakup pelatihan ekstraksi sederhana menggunakan metode maserasi dan penggodokan kulit kayu akasia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membawa hasil riset kampus lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Dr. Novia Amalia Sholeha mengatakan penerapan hasil penelitian di tengah masyarakat penting agar inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat secara lebih luas.

“Aplikasi ekstraksi kulit kayu akasia merupakan salah satu pengabdian berdasar riset kampus. Saya berharap lebih banyak lagi produk dan inovasi yang dapat dikenalkan pada masyarakat,” ujar Novia.

Kolaborasi dengan kelompok peternak juga memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk melihat langsung kondisi dan kebutuhan di lapangan. Sebaliknya, peternak memperoleh pengetahuan serta kesempatan untuk mengenal pendekatan pengendalian yang dikembangkan melalui penelitian.

Program tersebut dirancang tidak berhenti setelah pelatihan. Tim IPB University akan melanjutkan pengujian dan pendampingan melalui proses ekstraksi kulit kayu akasia, pemberian ekstrak dalam pakan, pemantauan perkembangan kecacingan, serta penghitungan dampaknya terhadap ekonomi peternak.

Hasil pengamatan nantinya menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kemungkinan perbaikan formulasi perlakuan, pengembangan penelitian, maupun pendampingan lanjutan. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rekom Kemendagri Tak Kunjung Turun, Pelantikan Pejabat Eselon 2 Kota Madiun Masih Gelap

    Rekom Kemendagri Tak Kunjung Turun, Pelantikan Pejabat Eselon 2 Kota Madiun Masih Gelap

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle Mandor
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Kabar kurang manis muncul ketika empat pejabat eselon dua terpilih yang sedianya dijadwalkan mengucap sumpah jabatan pada 9 Oktober 2026. Namun nyatanya pengisian kepala dinas di empat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkungan Pemkot Madiun hasil seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) 2026 terpaksa molor.  Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Madiun […]

    Bagikan
  • Ini Jeritan Keluarga Korban Kecelakaan KA Malioboro Ekspres

    Ini Jeritan Keluarga Korban Kecelakaan KA Malioboro Ekspres

    • calendar_month Rabu, 21 Mei 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Magetan – Suasana duka menyelimuti acara penyerahan santunan korban kecelakaan kereta api Malioboro Ekspres oleh Jasa Raharja di Pendapa Surya Graha, Kabupaten Magetan, Selasa (20/05/2025). Namun, suasana tersebut mendadak berubah menjadi hening dan emosional ketika salah satu keluarga korban menyampaikan kekecewaannya terhadap PT Kereta Api Indonesia (KAI). Jupri, ayah dari almarhumah Resyka […]

    Bagikan
  • Pohon Tumbang Lumpuhkan Akses Jalan Menuju Telaga Sarangan, Listrik Padam

    Pohon Tumbang Lumpuhkan Akses Jalan Menuju Telaga Sarangan, Listrik Padam

    • calendar_month Kamis, 8 Mei 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Akses jalan menuju kawasan wisata Telaga Sarangan lumpuh total setelah sebuah pohon besar tumbang dan menimpa jaringan listrik milik PLN di Jalan Lawu Lama, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Magetan, Rabu (7/5/2025) malam. Pohon jenis Pasang Kapur dengan lingkar batang sekitar 110 cm roboh sekitar pukul 19.00 WIB, usai hujan disertai angin […]

    Bagikan
  • Kisah Haru Jemaah Haji Kota Madiun Menyusuri Jejak Sahabat Nabi di Madinah

    Kisah Haru Jemaah Haji Kota Madiun Menyusuri Jejak Sahabat Nabi di Madinah

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Sinergia | Madinah – Suasana khidmat menyelimuti langkah-langkah jemaah haji asal Kota Madiun saat menapaki jejak sejarah Islam di Kota Madinah. Di sela rangkaian ibadah, para jemaah melaksanakan ziarah ke sejumlah masjid bersejarah yang berada di sekitar Masjid Nabawi, di antaranya Masjid Abu Bakar dan Masjid Ali bin Abi Thalib. Kegiatan ziarah ini tidak sekadar […]

    Bagikan
  • Terekam CCTV, Perempuan Berkerudung Gasak Beras dan Elpiji di Pasar Paron Ngawi

    Terekam CCTV, Perempuan Berkerudung Gasak Beras dan Elpiji di Pasar Paron Ngawi

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ngawi – Sebuah aksi pencurian di toko kelontong yang berada di kawasan Pasar Paron, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, terekam kamera pengawas (CCTV), Rabu (14/05/2025). Dalam rekaman berdurasi 1 menit 20 detik itu, tampak seorang perempuan mengenakan hijab biru tua dan masker mengambil sejumlah barang tanpa melakukan pembayaran. Perempuan yang belum diketahui identitasnya tersebut terlihat […]

    Bagikan
  • DPRD Kabupaten Madiun Serukan Perbaikan dan Kolaborasi di Hari Jadi ke-457

    DPRD Kabupaten Madiun Serukan Perbaikan dan Kolaborasi di Hari Jadi ke-457

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Momentum Hari Jadi ke-457 Kabupaten Madiun menjadi refleksi penting bagi DPRD Kabupaten Madiun untuk terus berbenah. Ketua DPRD Madiun, Fery Sudarsono, menegaskan perlunya sinergi yang lebih solid antara eksekutif dan legislatif demi mewujudkan visi Madiun Bersahaja (Bersih, Sehat, Sejahtera). Pernyataan tersebut disampaikan Fery Sudarsono saat memimpin Rapat Paripurna Istimewa dalam […]

    Bagikan
expand_less