Hari Batik Nasional 2026, Regenerasi Pembatik di Kota Madiun Masih Jadi Tantangan
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 33
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun — Peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk melihat perkembangan industri batik sekaligus tantangan regenerasi perajin. Di Kota Madiun, batik terus berkembang dengan beragam motif khas, namun minat generasi muda untuk menekuni profesi sebagai pembatik masih dinilai rendah.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnaker KUKM) Kota Madiun, Anang Wibowo, mengatakan mayoritas pembatik yang mengikuti pelatihan peningkatan kemampuan masih berusia di atas 40 tahun.
Menurut Anang, kondisi tersebut terlihat dalam kegiatan up skill atau peningkatan kemampuan membatik yang digelar pemerintah daerah bulan sebelumnya. Kegiatan itu diikuti sekitar 30 pembatik yang telah memiliki dasar atau menjalankan usaha batik.
“Kemarin ada 30 orang pembatik kita berikan pelatihan selama tiga hari untuk melatih meningkatkan kemampuan membuat pola sampai jadi kain batiknya. Memang rata-rata usia di atas 40 tahun,” kata Anang.
Ia menyebut minat generasi muda untuk terjun langsung menjadi perajin batik masih perlu ditingkatkan. Pemerintah Kota Madiun sebelumnya juga telah berupaya mengenalkan batik dan kerajinan kepada anak muda melalui berbagai kegiatan.
Salah satunya melalui kegiatan di Teras Kriya Gedung Dekranasda. Selain membatik, kegiatan tersebut juga mengenalkan berbagai aktivitas kriya seperti menggambar, membuat manik-manik, dan kerajinan lainnya.
Anang menilai regenerasi pembatik tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga ketertarikan terhadap seni.
“Batik itu perlu seni. Memang mungkin dari passion-nya anak-anak muda sekarang untuk menjadi seni masih kurang. Harus menjiwai seni, menumpahkan ide dalam bentuk pola,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar pengenalan batik kepada generasi muda dilakukan sejak lingkungan sekolah. Salah satu upaya yang dinilai dapat dilakukan adalah memperbanyak kompetisi menciptakan desain atau motif batik baru.
“Sering mengadakan kompetisi di tingkat sekolahan mungkin perlu kita tingkatkan. Cipta-cipta batik baru,” katanya.
Disnaker KUKM Kota Madiun mencatat terdapat sekitar 30 pembatik yang aktif saat ini. Pembinaan terhadap pelaku batik tidak hanya dilakukan melalui pelatihan. Pemerintah juga memberikan kesempatan mengikuti pameran serta memfasilitasi tempat untuk memajang produk di Gedung Dekranasda Kota Madiun.

“Hasil-hasil kreasi pembatik Madiun ada di situ. Hasil kreasi motif-motif pembatik Kota Madiun ada semua di sana,” jelas Anang.
Selain pengembangan sumber daya manusia dan pemasaran, pemerintah juga memberikan dukungan berupa fasilitasi peralatan. Tahun ini, Disnaker KUKM Kota Madiun menyiapkan meja kaca yang digunakan untuk membantu proses pembuatan pola batik.
“Ini sementara baru 10,” kata Anang terkait jumlah meja yang disiapkan.
Di tengah persoalan regenerasi, batik Kota Madiun juga terus dikembangkan melalui penciptaan motif yang merepresentasikan identitas daerah.
Anang mengatakan sejumlah motif batik hasil kreasi pembatik Kota Madiun telah didaftarkan untuk memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual (HAKI). Berdasarkan data yang ia ketahui, terdapat sekitar tujuh motif yang telah didaftarkan.
“Setahu saya tujuh motif. Ada motif pecel hingga motif kereta api juga,” ujarnya.
Plt Kepala Disnaker KUKM Kota Madiun Angga Wahyu Nurcahyo menambahkan, upaya regenerasi pembatik tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi perangkat daerah (OPD) saja.
Menurut dia, pemerintah daerah menggandeng OPD lain, termasuk Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora), untuk menggelar kegiatan yang sekaligus menjadi ruang promosi bagi batik Madiun dan pembatik generasi muda.
Salah satunya melalui kegiatan Madiun Batik Heritage hingga Desain Batik Competition.
“Regenerasi itu sebenarnya kita tidak bisa kerja sendiri. Makanya kita selalu menggandeng OPD-OPD terkait. Seperti lewat event-event seperti Madiun Batik Heritage pada Hari Jadi ke-108,” kata Angga.
Ia menjelaskan pembagian peran antar-OPD dilakukan sesuai kewenangan masing-masing. Disnaker KUKM lebih berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan, sementara kegiatan yang bersifat promosi dan pengangkatan potensi batik dapat dilakukan melalui OPD lain.
“Kita lebih ke peningkatan kualitas SDM-nya. Tapi event-nya nanti yang membantu mengangkat dari Disparpora,” ujarnya.
Ke depan, Pemerintah Kota Madiun berencana terus mengembangkan batik melalui kegiatan dan event yang mengangkat potensi batik daerah, termasuk pengembangan tema atau karakter batik Madiun.
Dengan demikian, tantangan batik Madiun tidak hanya mempertahankan motif dan produk yang telah berkembang, tetapi juga memastikan keterampilan membatik dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





