Kekeringan Meluas, Warga Ponorogo Andalkan Air Dari Aliran Sungai dan Bantuan BPBD
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 48 menit yang lalu
- visibility 26
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Musim kemarau berkepanjangan menyebabkan sejumlah wilayah di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengalami kesulitan air bersih. Sedikitnya 10 dukuh terdampak kekeringan dan membutuhkan bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dirasakan warga Dukuh Dungus, Desa Karangpatihan, serta Dukuh Sukun, Desa Sidoharjo, Kecamatan Pulung. Warga terpaksa memanfaatkan sumber air alternatif di tengah terbatasnya ketersediaan air bersih.
Sri Wahyuni, warga Desa Karangpatihan, mengaku menggunakan air dari sumur resapan yang bersumber dari aliran sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, kondisi air yang kotor membuatnya tidak berani menggunakannya untuk konsumsi.
“Air dari sumur resapan itu hanya saya gunakan untuk mandi dan mencuci karena kondisinya kotor. Kalau untuk minum, saya tidak berani. Untuk konsumsi, saya mengandalkan air PDAM, tetapi alirannya tidak tentu,” ungkap Sri Wahyuni.
Keterbatasan pasokan air membuat warga harus mencari cara agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Kondisi ini juga dirasakan Ardani Rida Saputra, warga Desa Sidoharjo.
Ia mengatakan, selama beberapa bulan terakhir, dirinya mengandalkan air dari sumur milik saudaranya sebelum mendapatkan bantuan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo.
“Selama beberapa bulan ini saya menggunakan air dari sumur saudara. Setelah mendapatkan bantuan dari BPBD, setidaknya ada tambahan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Ardani.
Sementara itu, Subkoordinator Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Gatot Susanto, mengatakan distribusi air bersih terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan selama musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan jadwal distribusi BPBD Ponorogo per 20 Oktober 2026, total air bersih yang dijadwalkan untuk disalurkan mencapai 95.000 liter.
“Distribusi air bersih dilakukan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau. Penyaluran dilakukan secara bergiliran sesuai jadwal ke wilayah-wilayah terdampak,” ujar Gatot.
Distribusi air bersih tersebut melibatkan BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), serta unsur pendukung lainnya. Penyaluran dijadwalkan berlangsung dari Senin hingga Sabtu.
Berdasarkan tabel BPBD, distribusi tersebut mencakup 10 dukuh di sembilan desa yang tersebar di sembilan kecamatan. Jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 653 kepala keluarga atau 1.642 jiwa, dengan total 18 ritasi tangki air.
Bantuan air bersih diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau. Warga berharap distribusi terus dilakukan, mengingat sumber air yang tersedia semakin terbatas dan pasokan air PDAM belum mengalir secara rutin. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Krz/Diez





