Menikmati Getuk Goreng Khas Pedesaan di Atas Awan, Kuliner Sooko Ponorogo Diburu Pembeli
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 36
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Menikmati kuliner tradisional di tengah suasana pegunungan menjadi pengalaman tersendiri. Di Desa Jurug, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, terdapat warung yang menawarkan getuk goreng khas pedesaan dengan suasana sejuk dan dikelilingi rimbunnya pohon pinus.
Warung Tengah Alas berada di kawasan perbatasan Ponorogo dengan Kabupaten Trenggalek. Lokasinya berada di ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga udara di kawasan tersebut terasa cukup dingin.
Salah satu menu yang menjadi andalan adalah getuk goreng. Berbeda dengan getuk pada umumnya, getuk di tempat ini dibuat dalam bentuk panjang dan melingkar. Getuk kemudian diiris tipis dan digoreng setelah ada pesanan dari pembeli.
Cara penyajian tersebut membuat getuk disajikan dalam kondisi hangat. Teksturnya yang empuk dan lembut serta cita rasa gurih menjadi salah satu daya tarik kuliner tersebut.
Agustin Dwi Hanifah, salah seorang pembeli asal Kota Ponorogo, mengaku rela menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam untuk menikmati getuk goreng tersebut.
“Di sini dingin, jadi makan getuk goreng yang hangat itu rasanya syahdu. Teksturnya empuk dan lembut, rasanya juga gurih, berbeda dengan getuk yang biasa ada di Ponorogo kota,” kata Agustin.
Menurutnya, getuk goreng tersebut semakin cocok disantap bersama kopi sembari menikmati suasana hutan pinus. “Cocok dipadukan dengan cuaca dingin. Sama kopi dan getuk goreng ini cocok banget,” ujarnya.
Getuk goreng tersebut telah dijual sekitar sepuluh tahun. Pipit Muasih, penjual getuk goreng, mengatakan resep yang digunakan hingga kini masih dipertahankan dari resep orang tuanya.
Menurut Pipit, getuk goreng dipilih sebagai menu andalan karena saat pertama kali berjualan belum banyak penjual yang menawarkan kuliner serupa di kawasan tersebut.

“Menu andalannya getuk goreng dan getuk lonjor. Saya memilih getuk goreng karena waktu itu belum ada penjual lain yang menjualnya. Jadi ingin membuat sesuatu yang berbeda,” kata Pipit.
Selain resep, pemilihan bahan baku juga menjadi perhatian. Pipit menggunakan jenis singkong tertentu untuk menghasilkan tekstur getuk yang lembut.
Tingginya permintaan membuat Pipit terkadang kewalahan memenuhi pesanan. Dalam sehari, kapasitas produksi mencapai sekitar 300 potong, sedangkan pesanan harian dapat mencapai sekitar 200 potong.
“Dalam sehari pesanan bisa sekitar 200 potong, sedangkan kemampuan produksi sekitar 300 potong. Kalau akhir pekan, penjualan bisa lebih banyak,” ujarnya.
Saat akhir pekan, penjualan bahkan dapat mencapai sekitar 400 potong getuk goreng. Selain getuk goreng, warung tersebut juga menyediakan getuk lonjor yang dapat digoreng sendiri di rumah, nasi pecel, serta berbagai gorengan.
Untuk menikmati getuk goreng khas Sooko ini, pembeli cukup membayar sekitar Rp1.000 per potong.
Perpaduan makanan tradisional, udara sejuk pegunungan, dan suasana hutan pinus menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Kuliner sederhana ini menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan khas pedesaan dengan suasana berbeda di kawasan Sooko, Ponorogo. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





