Pupuk Indonesia Dorong Petani di Madiun Gunakan Sistem Pemupukan Berimbang
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 126
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – PT Pupuk Indonesia (Persero) membeberkan mekanisme penebusan pupuk bersubsidi bagi petani di wilayah Madiun Raya menjelang musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027. Petani terdaftar dapat menebus pupuk sesuai alokasi yang tercatat dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
Meski demikian penggunaan pupuk organik Petroganik terus didorong untuk mendukung penerapan pemupukan berimbang. Namun, upaya tersebut bukan berarti petani harus menebus pupuk bersubsidi dalam satu paket.
Hal itu disampaikan Regional CEO 3 Pupuk Indonesia, Eko Suroso, dalam kegiatan Media Gathering Regional 3 di Madiun. Menurut dia, petani yang telah terdaftar dalam e-RDKK berhak mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah.
“Petani dapat menebus pupuk bersubsidi sesuai dengan haknya. Pupuk organik menjadi pelengkap yang dibutuhkan petani dalam rangka menerapkan metode pemupukan berimbang,” ujarnya.
Eko menjelaskan, penggunaan pupuk organik merupakan bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga kesuburan tanah. Karena itu, Pupuk Indonesia terus mendorong edukasi kepada petani agar pemanfaatan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
Untuk mendukung kebutuhan petani pada musim tanam mendatang, Pupuk Indonesia memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi di wilayah Madiun Raya mencapai 31.267 ton per 7 Oktober 2026.
Stok tersebut tersebar untuk memenuhi kebutuhan petani di Kota dan Kabupaten Madiun, Pacitan, Ponorogo, Magetan, serta Ngawi.

Rinciannya meliputi 16.433 ton urea, 10.886 ton NPK Phonska, 3.764 ton pupuk organik Petroganik, 166 ton ZA, dan 19 ton NPK Kakao.
Sementara itu, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Madiun Raya mencapai 237.385 ton atau 77 persen dari total alokasi 306.864 ton sepanjang 2026.
Di tingkat Jawa Timur, penyaluran telah mencapai 1.699.530 ton atau 78 persen dari alokasi sebanyak 2.182.522 ton.
Eko berharap ketersediaan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani. Penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanaman dinilai penting untuk mendukung hasil panen sekaligus mempertahankan kualitas tanah.
Sementara itu ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun, Suharno, menyampaikan bahwa penggunaan Petroganik memberikan manfaat bagi petani, terutama dalam menjaga kesuburan tanah agar tetap produktif.
Suharno menambahkan, Petroganik juga dinilai praktis digunakan karena berbentuk butiran atau granul dan dikemas sehingga memudahkan petani saat mengaplikasikannya di lahan pertanian.
“Alhamdulillah, ketika Petroganik diaplikasikan, hasilnya optimal bagi produktivitas pertanian. Testimoni petani juga tidak ada yang jelek,” ujarnya.
Melalui optimalisasi penggunaan pupuk bersubsidi dan penerapan pemupukan berimbang, Pupuk Indonesia berharap produktivitas pertanian di Madiun Raya dapat terus ditingkatkan. Pada saat yang sama, kesuburan tanah diharapkan tetap terjaga untuk mendukung keberlanjutan usaha tani. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krs/Diez





