Waduk Dawuhan Madiun Kritis, Intake Irigasi Ditutup, 1.273 Hektare Sawah Terancam Kekeringan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 54 menit yang lalu
- visibility 23
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Kekeringan mulai mengancam ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Madiun. Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, kini berada pada kondisi kritis setelah volume air terus menyusut selama musim kemarau.
Pengelola Waduk Dawuhan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo terpaksa menutup pintu intake saluran irigasi sejak 15 September 2026. Penutupan dilakukan karena elevasi muka air waduk telah mencapai batas minimal operasional.
Petugas Operasi Waduk Dawuhan, Agung Wirasat, mengatakan berdasarkan pemantauan terakhir, Tinggi Muka Air (TMA) waduk berada di level 77,50 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara volume air yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 300 ribu meter kubik.
“Untuk kondisi sekarang, pintu intake ada penutupan karena sudah di batas minimal. Sekarang TMA-nya 77,50 mdpl, volumenya sekitar 300.000 meter kubik,” kata Agung saat ditemui di Waduk Dawuhan, Rabu (30/9/2026).
Penutupan intake tersebut berdampak langsung terhadap suplai air irigasi bagi lahan pertanian yang selama ini mengandalkan Waduk Dawuhan.
Agung menyebut cakupan layanan irigasi Waduk Dawuhan mencapai sekitar 1.273 hektare lahan pertanian yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Wonoasri, Balerejo, dan Kecamatan Madiun.

“Yang pasti untuk air irigasi berhenti. Jadi warga atau petani sekarang memakai sible atau sumur, sumur pompa,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petani harus mencari sumber air alternatif untuk mempertahankan tanaman mereka di tengah kemarau yang masih berlangsung.
Agung menjelaskan penyusutan volume air Waduk Dawuhan berlangsung cukup cepat. Selain tidak adanya pasokan air yang masuk ke waduk, tingginya suhu selama musim kemarau turut mempercepat penguapan.
Meski pintu intake ditutup, aktivitas operasional waduk tetap berjalan. Petugas masih melakukan pemantauan Tinggi Muka Air secara rutin, pembacaan instrumen, hingga pemeliharaan tubuh bendungan.
“Untuk sekarang aktivitas operasional tetap pencatatan rutin TMA, pembacaan TMA, kemudian pembacaan instrumentasi, sama pemeliharaan tubuh bendungan, seperti pembersihan rumput dan sebagainya,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi waduk yang surut juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mencari ikan. Aktivitas tersebut memang biasa dilakukan saat musim kemarau ketika permukaan air waduk menyusut.
“Kalau musim kemarau memang ada warga sekitar yang memanfaatkan untuk mencari ikan. Ikannya lumayan banyak kalau musim kemarau,” kata Agung.
Belum ada pembukaan kembali saluran irigasi dalam waktu dekat. Pengoperasian intake untuk kebutuhan irigasi baru diperkirakan kembali dilakukan setelah memasuki musim hujan.
Agung menyebut operasional biasanya kembali berjalan pada sekitar Desember hingga Januari, bersamaan dengan persiapan musim tanam pertama (MT 1) dan pengaturan operasi banjir.
“Kalau untuk operasional nanti menunggu biasanya musim hujan, di antara Desember sampai Januari, untuk MT 1 sama untuk operasi banjir nanti,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana





