Harga Sayuran di Magetan Anjlok, Petani Tertekan Cuaca Buruk dan Minimnya Serapan Program MBG
- account_circle Kusnanto
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- visibility 94
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Harga berbagai komoditas sayuran di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, merosot tajam dalam beberapa minggu terakhir. Anjloknya harga dipicu cuaca tidak menentu yang menyebabkan banyak tanaman rusak akibat serangan hama. Sementara serapan pasar, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai belum berpihak pada petani lokal.
Pantauan di Dusun Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, menunjukkan kerusakan cukup parah pada komoditas hortikultura. Tanaman cabai rawit banyak yang busuk terserang hama patek selama empat bulan terakhir. Kondisi serupa terjadi pada cabai merah keriting yang mengering dan rontok sebelum dipanen.
Kerusakan juga melanda komoditas lain seperti sawi. Tanaman tersebut berlubang dan membusuk akibat hama jendel, menyebabkan panen tak maksimal dan sebagian besar gagal dijual.
Di pasaran, harga anjlok signifikan. Cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp70.000/kg kini hanya Rp40.000–Rp50.000 di tingkat petani. Cabai merah keriting turun dari Rp50.000 menjadi Rp20.000/kg. Sementara sawi hanya dihargai Rp1.000/kg dari harga normal Rp10.000/kg.
Penurunan ini membuat banyak petani tidak dapat menutup biaya produksi, terutama untuk obat-obatan yang semakin mahal saat cuaca ekstrem.

Di tengah keterpurukan tersebut, petani mengaku tidak pernah dilibatkan dalam suplai bahan pangan untuk program MBG. Mereka menilai sayur lokal justru terpinggirkan karena pemasok lebih memilih mendatangkan komoditas dari luar daerah seperti Kediri, Nganjuk, atau Wonosobo yang memiliki harga lebih murah.
Supriyadi, salah satu petani, menyayangkan keputusan tersebut.
“Masalah utama petani di sini itu iklim, harga yang jatuh, dan penjualan yang sulit. Program MBG pun tidak melibatkan kami. Padahal sayuran dari Magetan kualitasnya tidak kalah dengan daerah lain,” ujar Supriyadi.
Ia menyebut kualitas komoditas lokal seperti brokoli, kubis, kentang, hingga sayuran dataran tinggi lain sebenarnya sangat baik. Namun karena suplai MBG dipenuhi dari luar daerah, petani mengaku “tidak tersentuh sama sekali”.
Hal senada disampaikan Suratno, petani lainnya. Ia menegaskan biaya produksi meningkat, namun pendapatan anjlok.
“Cuaca buruk bikin kebutuhan obat naik, tapi harga sayur turun semua. Sawi cuma seribu rupiah per kilo. Modal saja tidak kembali. MBG juga tidak ada pengaruhnya bagi petani,” ungkapnya.
Petani berharap pemerintah daerah melakukan evaluasi rantai distribusi MBG agar melibatkan petani lokal sebagai pemasok utama. Selain menumbuhkan ekonomi desa, kebijakan itu dinilai bisa memperbaiki harga pasar dan mencegah kerugian berkepanjangan.
“Kami hanya ingin pemerintah lebih memperhatikan petani kecil. Kalau sayur diambil dari lokal, harga bisa lebih baik dan ekonomi warga terangkat,” kata Supriyadi.
Di tengah cuaca yang masih tidak stabil, para petani berharap ada langkah cepat dari pemerintah untuk menekan kerugian dan memastikan keberlanjutan produksi sayuran di Magetan.



- Penulis: Kusnanto

