Jasad Tihwin Warga Kare Teridentifikasi, Peti Jenazah Dipulangkan ke Kampung Halaman
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Jenazah korban kecelakaan laut KM Virgo Transport 8 Tihwin Nuryanto (43), warga Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun berhasil diidentifikasi. Jasad korban ditemukan setelah 13 hari pencarian dan kini dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.
Sekitar pukul 07.10 WIB jenazah Tihwin tiba di Bandara Juanda, Surabaya, Selasa (29/9/2026) pagi. Dari Surabaya, jenazah akan dipulangkan ke Kabupaten Madiun untuk dimakamkan di TPU Seweru, Desa Kare.
Kepala Desa Kare, Sunarno, mengatakan jenazah Tihwin diterbangkan dari Banjarmasin sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madiun.
“Saat ini jenazah sudah landing di Bandara Juanda, diterbangkan dari Banjarmasin tadi pagi,” kata Sunarno, Selasa (29/9/2026).
Setibanya di Madiun, jenazah Tihwin akan diantar sejumlah petugas, termasuk Basarnas. Pemakaman dijadwalkan berlangsung di TPU Seweru pada Selasa hari ini.
Lokasi pemakaman tersebut juga menjadi tempat peristirahatan terakhir kakaknya, Taruno Hidayat, yang lebih dahulu ditemukan dan dimakamkan pada Sabtu (26/9/2026).
Tihwin dan Taruno merupakan dua bersaudara yang menjadi korban kecelakaan KM Virgo Transport 8. Keduanya berangkat ke Kalimantan untuk berjualan sayur.
Taruno yang sehari-hari bekerja sebagai guru PPPK berangkat ke Kalimantan untuk mencari tambahan penghasilan. Tihwin ikut mendampingi sang kakak dalam perjalanan tersebut.
Kini, keluarga berharap kedua bersaudara itu dapat dimakamkan berdampingan.
Sunarno mengatakan keinginan tersebut disampaikan langsung oleh orang tua Tihwin dan Taruno. Namun, pihak keluarga masih akan melihat kondisi lahan di TPU Seweru.
“Orang tua menginginkan makamnya berdampingan, tapi kita lihat dulu kondisinya apa masih ada lahan untuk berdampingan,” ujar Sunarno.
Kepergian Tihwin meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Ia meninggalkan seorang istri dan empat anak yang masih kecil. Dalam kesehariannya, Tihwin bekerja di sebuah event organizer dan wedding organizer.
Selain pekerjaan tersebut, ia juga memiliki kendaraan pick up yang biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kendaraan itu pula yang digunakan untuk mengangkut sayuran dalam perjalanan ke Kalimantan.
Kepergian Tihwin ke Kalimantan bukan semata untuk mencari penghasilan bagi dirinya. Ia ikut mengantar Taruno yang berupaya mendapatkan tambahan pendapatan untuk keluarganya.
Upah Taruno sebagai guru PPPK disebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena itu, ia mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan sayur di Kalimantan. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





