Dampak Kemarau Panjang Kekeringan Meluas di Ngawi, 4.403 Jiwa Kesulitan Air Bersih
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 38
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Kekeringan akibat kemarau panjang mulai membebani ribuan warga di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sebanyak 4.403 jiwa yang tersebar di 21 desa pada tujuh kecamatan terdampak kekeringan dan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Warga kini mengandalkan bantuan distribusi air dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dirasakan warga Desa Cantel, Kecamatan Pitu. Pada Jumat (9/10/2026) siang, kedatangan truk tangki pembawa bantuan air bersih langsung disambut warga yang berbondong-bondong mendatangi tempat penampungan air. Mereka membawa jeriken dan galon bekas air mineral untuk menampung air yang dibagikan.
Sebagian warga bahkan membawa lebih dari enam galon sekaligus untuk memastikan persediaan air di rumah tetap tersedia. Air bantuan tersebut menjadi kebutuhan penting, terutama setelah sumur-sumur warga mengering akibat kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Selama sekitar satu bulan terakhir, warga mulai kesulitan memperoleh air dari sumur. Pasokan air dari jaringan perusahaan daerah air minum (PDAM) juga tidak menentu, dengan debit yang kecil dan hanya mengalir sesekali.

Kondisi ini membuat warga harus mengatur penggunaan air secara ketat. Air yang diperoleh dari bantuan digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memasak, minum, hingga memenuhi kebutuhan ternak.
Puryanto, warga Desa Cantel, mengaku kesulitan mendapatkan air bersih ketika bantuan tidak datang. Warga terpaksa mencari sumber air hingga ke kawasan hutan yang jaraknya cukup jauh dari permukiman.
“Sudah sebulan terakhir sumur mengering. Kalau bantuan tidak datang, susah sekali karena harus mencari air jauh ke hutan. Air juga dibutuhkan untuk minum dan kebutuhan ternak,” ujar Puryanto.
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Ngawi pun terus menjadi perhatian pemerintah daerah. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, sebanyak 4.403 jiwa di 21 desa pada tujuh kecamatan tercatat terdampak kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ngawi, Yudha Herlambang, mengatakan dampak kekeringan terutama dirasakan warga yang sumber airnya bergantung pada sumur. Kemarau panjang menyebabkan sumur-sumur mengering sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.
“Sejauh ini sudah lebih dari 4.000 jiwa terdampak kekeringan. Sumur-sumur warga mengering akibat kemarau panjang,” kata Yudha.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, distribusi air bersih dilakukan setiap hari oleh berbagai pihak. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga yang kesulitan mendapatkan air dari sumber-sumber air di sekitar tempat tinggal mereka.
Meski demikian, kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan bagi warga yang sumurnya belum kembali terisi. Masyarakat berharap distribusi bantuan dapat dilakukan secara rutin dan menjangkau wilayah-wilayah terdampak, sehingga kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama kemarau berlangsung. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krs/Diez





