Bertahan Hidup dari Kerja Serabutan, Darus Salam Kerap Tak Tercatat Sebagai Penerima Bansos
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 171
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Di sebuah rumah sederhana berlantai tanah di Dusun Gunting, Desa Kradinan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Darus Salam (52) menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Meski hidup dalam kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, namanya hingga kini tak pernah tercantum sebagai penerima bantuan sosial (bansos).
Setiap hari, Darus bekerja serabutan demi menghidupi keluarganya. Apa pun pekerjaan yang datang akan ia kerjakan, mulai dari membajak sawah, mencangkul hingga menjadi buruh panen jagung.
Penghasilannya tak menentu, sementara ia harus membesarkan dua anaknya seorang diri. Anak sulungnya, Siti Eka Nur Khotijah (17), kini menempuh pendidikan di pondok pesantren. Sedangkan putra bungsunya, Ali Farzan Nur Faeyza (8), tinggal bersama Darus di rumah sederhana yang dibangun seadanya.
Kondisi hidup Darus semakin berat setelah istrinya meninggal dunia saat pandemi COVID-19. Sejak putranya masih berusia sekitar 19 bulan, ia harus menjalankan peran sebagai ayah sekaligus ibu bagi anaknya.
“Mulai umur 19 bulan itu ibunya meninggal karena Corona. Sekarang saya yang ngasuh sendiri,” ujar Darus.
Meski pernah didata oleh perangkat desa, hingga kini bantuan sosial yang diterimanya bukan atas nama dirinya. Bantuan tersebut berasal dari keluarga maupun warga lain yang kemudian dialihkan kepadanya.
“Saya pernah didata sama pamong desa. Katanya bisa diusahakan dapat bantuan, tapi atas nama adik saya. Ya sudah, saya enggak tanya kenapa begitu,” katanya.

Selama ini, bantuan yang diterimanya pun hanya berupa bantuan langsung tunai (BLT), beras, maupun bantuan pangan lainnya yang seluruhnya bukan tercatat atas nama dirinya.
“Kalau BLT itu juga lemparan. Bukan atas nama saya sendiri. Beras juga jarang. Pernah dapat ayam juga beberapa kali, tapi semuanya bukan nama saya,” ungkapnya.
Bagi Darus, menerima bantuan yang bukan atas namanya bukanlah persoalan yang ia permasalahkan. Ia mengaku tetap bersyukur karena masih ada perangkat desa yang berupaya membantunya.
“Saya ya senang saja. Dikasih sama pamong desa. Saya berterima kasih karena masih diusahakan,” tuturnya.
Meski demikian, jauh di dalam hati, Darus mengaku memiliki harapan agar suatu saat dirinya benar-benar terdaftar sebagai penerima bantuan sosial sesuai kondisi ekonominya. Namun, ia memilih memendam keinginan tersebut.
“Kalau angan-angan pasti ada, ingin nama saya sendiri yang menerima. Tapi saya enggak berani bicara. Ya saya menerima apa adanya begini,” katanya sambil tersenyum tipis.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Darus kerap harus meminjam uang kepada orang yang akan memberinya pekerjaan. Cara itu menjadi satu-satunya jalan agar dapur tetap mengepul saat pekerjaan sedang sepi.
“Kadang ya kurang, kadang cukup, tapi lebih banyak kurangnya. Yang penting anak bisa makan. Kalau enggak ada ya pinjam dulu ke orang yang mau kasih kerja,” ujarnya.
Kisah Darus menjadi potret bahwa masih ada warga dengan kondisi ekonomi rentan yang belum sepenuhnya tercatat sebagai penerima bantuan sosial. Di tengah perjuangannya membesarkan dua anak seorang diri, ia hanya berharap bisa terus bekerja dan suatu saat memperoleh hak bantuan atas namanya sendiri.(Tov).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Byg




