Kamis, 15 Okt 2026
Trending Tags

Bukan Sekadar Film Horor, Ini Pesan Hanung Bramantyo di Balik Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah

  • account_circle Kriswanto
  • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
  • visibility 254
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Hanung Bramantyo menjelaskan pesan di balik film Lobang Buaya. (3/10/2026), Foto : Kris-Sinergia

Sinergia | Kota Madiun — Suasana mencekam langsung terasa sejak menit-menit awal film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah diputar. Beberapa jump scare muncul di tengah suasana gelap dan penuh misteri, membuat penonton sesekali tersentak.

Namun, ketegangan dalam film karya sutradara Hanung Bramantyo itu tidak berhenti pada kemunculan hantu atau kejutan visual. Di balik cerita pembunuhan misterius dan teror yang muncul setiap tanggal 30, film tersebut membawa penonton pada persoalan sejarah, tragedi kemanusiaan 1965, fitnah, konflik sosial, hingga sisi gelap manusia.

Film yang dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Mathias Muchus, dan Anya Zen tersebut berlatar sebuah desa yang dihantui serangkaian pembunuhan misterius yakni Desa Lobang Buaya. Teror yang terus berulang menjadi bagian penting dalam cerita sekaligus membuka pertanyaan mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi di baliknya. Film ini telah tayang di bioskop Indonesia sejak 1 Oktober 2026.

Hanung mengatakan penggunaan genre horor dalam film tersebut merupakan pilihan untuk menyampaikan gagasan yang lebih luas mengenai teror.

Dalam wawancara seusai pemutaran film di XXI Sun City Mall Kota Madiun, Sabtu (3/10/2026), Hanung menyebut karya-karyanya memiliki benang merah berupa peristiwa kelam dalam sejarah.

“Kalau menurut saya semuanya tentang peristiwa kelam, peristiwa kelam sejarah,” kata Hanung.

Menurutnya, horor tidak selalu berarti kehadiran makhluk gaib. Horor juga dapat berupa teror psikologis yang membuat seseorang mengalami ketakutan dan tekanan.

“Horor itu adalah psikologis, teror yang menyerang psikologis kita, yang membuat kita stres, yang membuat kita enggak bisa tidur,” ujarnya.

Karena itu, hantu dalam Lobang Buaya bukan menjadi satu-satunya sumber ketakutan. Unsur supernatural justru digunakan untuk memperkuat teror yang menjadi bagian dari persoalan sosial dan sejarah dalam film.

Salah satu pesan yang ingin disampaikan Hanung berkaitan dengan sejarah Lubang Buaya. Menurutnya, Lubang Buaya selama ini lebih banyak dikenal masyarakat sebagai lokasi sumur tempat ditemukannya jenazah sejumlah korban peristiwa 1965. Namun, ia menekankan bahwa Lubang Buaya merupakan nama sebuah desa.

Sebelum peristiwa 30 September 1965, Hanung menyebut Lubang Buaya sebagai desa mandiri yang dihuni 13 kepala keluarga.

“Tapi setelah sejak peristiwa itu akhirnya kemudian berubah menjadi hilang, 13 KK-nya menjadi enggak ada,” katanya.

Image Not Found
Pemutaran film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah di XXI Sun City Mall Kota Madiun Foto : Kris-Sinergia

Bagi Hanung, perubahan tersebut merupakan bagian dari sejarah yang perlu kembali diingat. Film ini dibuat agar generasi muda tidak melupakan rangkaian peristiwa September-Oktober 1965 serta berbagai kekerasan yang terjadi setelahnya di sejumlah daerah.

“Bahkan terjadi tragedi kemanusiaan, pembantaian massal yang terjadi di berbagai macam daerah yang mencapai korban lebih dari 500 ribu bahkan sampai 1,3 juta,” ujar Hanung.

Ia menyebut berbagai angka mengenai korban tragedi kemanusiaan pasca-1965. Namun, jumlah korban dalam rangkaian kekerasan tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah dan memiliki estimasi berbeda berdasarkan sumber maupun penelitian.

Pilihan menggunakan horor juga tidak terlepas dari pengalaman Hanung ketika mencoba mengembangkan proyek bertema 1965 dalam bentuk dokudrama.

Ia mengaku pernah menulis skenario berjudul September Night yang dirancang sebagai dokudrama mengenai peristiwa G30S. Proyek tersebut, kata Hanung, didukung riset dan sejumlah sejarawan, tetapi akhirnya tidak berlanjut karena ada sebuah persoalan.

Hanung juga menyebut pengalaman film-film lain yang mengangkat tema 1965 dan menghadapi persoalan penayangan.

Karena itu, ia kemudian memilih genre horor sebagai jalan untuk tetap mengangkat tema tersebut.

“Karena itu makanya saya coba deh, mungkin karena genrenya ya, ada pilihan genrenya. Oh ya, saya mencoba dengan genre horor,” katanya.

Selain sejarah 1965, Lobang Buaya juga membawa persoalan mengenai fitnah dan bagaimana informasi dapat memengaruhi masyarakat.

Bagi Hanung, persoalan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini ketika informasi dapat menyebar dengan cepat tanpa selalu diikuti pemeriksaan kebenaran.

Film tersebut juga memasukkan persoalan keagamaan melalui karakter kyai, dukun, serta pembahasan mengenai kitab dan tafsir.

Hanung mengatakan bagian tersebut merupakan kritik terhadap fenomena ketika kelompok-kelompok keagamaan yang sama-sama mengaku memiliki dasar keyakinan dapat saling menyerang dan menganggap kelompok lain paling benar.

Ia menegaskan bahwa istilah “kitab” yang dimaksud dalam konteks tersebut bukan Al-Qur’an, melainkan kitab atau tafsir yang merupakan hasil pemahaman ulama.

Menurutnya, persoalan tersebut kembali berkaitan dengan tema besar film mengenai fitnah, yakni bagaimana tafsir, informasi, dan keyakinan dapat membentuk persepsi sekaligus memicu konflik.

Bagi Hanung, Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah bukan sekadar film tentang hantu dan pembunuhan misterius. Horor digunakan sebagai medium untuk membawa penonton melihat kembali sejarah, mempertanyakan informasi yang diterima, sekaligus memikirkan bagaimana ketakutan dan fitnah dapat memengaruhi masyarakat. (Krs)

Bagikan
  • Penulis: Kriswanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alokasi Pupuk Bersubsidi Tahun 2026 Untuk Petani Madiun Capai 48 Ribu Ton

    Alokasi Pupuk Bersubsidi Tahun 2026 Untuk Petani Madiun Capai 48 Ribu Ton

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani pada tahun anggaran 2026. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, total alokasi pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun ini mencapai lebih dari 48 ribu ton dan sudah dapat ditebus petani sejak awal Januari 2026. Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) […]

    Bagikan
  • Dinsos PPPA Kota Madiun Kirim 27 ODGJ Jalani Perawatan ke RS Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang

    Dinsos PPPA Kota Madiun Kirim 27 ODGJ Jalani Perawatan ke RS Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos-PPPA) Kota Madiun menjalin kerjasama dengan RS Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang, untuk memberikan perawatan medis kepada 27 pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang berasal dari Shelter Srindit. Proses penjemputan pasien dilaksanakan pada Selasa malam (18/2/2025). Mereka akan mendapatkan perawatan intensif selama […]

    Bagikan
  • Tragis! Tabrak Pohon di Tepi Telaga Ngebel, Remaja Tewas Tenggelam, Diduga Pengendara Mabuk

    Tragis! Tabrak Pohon di Tepi Telaga Ngebel, Remaja Tewas Tenggelam, Diduga Pengendara Mabuk

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Kecelakaan tunggal berujung maut terjadi di Jalan Lingkar Telaga Ngebel, tepatnya di lingkungan Bombong, Dukuh Nglingi, Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jumat (24/4/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Sepeda motor yang ditumpangi dua remaja menabrak pohon hingga satu korban terpental ke dalam telaga dan meninggal dunia. Peristiwa bermula saat Muhammad Nasril […]

    Bagikan
  • Viral! 11 Anak SD–SMP di Ponorogo Diam-Diam Racik Petasan dan Balon Udara, Polisi Temukan Mesiu

    Viral! 11 Anak SD–SMP di Ponorogo Diam-Diam Racik Petasan dan Balon Udara, Polisi Temukan Mesiu

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 392
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Aparat Polsek Sukorejo menggerebek sebuah rumah yang dijadikan tempat pembuatan balon udara tanpa awak sekaligus peracikan petasan di Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jumat (6/3/2026). Penggerebekan bermula dari laporan warga yang curiga dengan aktivitas sejumlah anak yang kerap menerima paket kiriman dengan sistem pembayaran di tempat (COD). Kecurigaan tersebut akhirnya […]

    Bagikan
  • Jelang Ramadhan, Satpol PP Pemkab Madiun Melakukan Dakwah Humanis Saat Patroli Gabungan

    Jelang Ramadhan, Satpol PP Pemkab Madiun Melakukan Dakwah Humanis Saat Patroli Gabungan

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Ndor
    • visibility 423
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab Madiun – Satpol PP Pemkab Madiun belum menunjukkan taring meskipun  bulan ramadhan di depan mata. Justru yang dilakukan masih dalam bentuk “dakwah” atau himbauan berupa kegiatan patroli gabungan antara Satpol PP Pemkab Madiun bersama sejumlah dinas terkait, TNI, dan Polri, Jumat (13/02/2026) malam. Petugas gabungan bergerak dari Pendopo Muda Graha Pemkab Madiun, […]

    Bagikan
  • Kisah Haru CJH Kota Madiun: Dari Nenek 76 Tahun hingga Remaja 16 Tahun Siap Berangkat Haji 2026

    Kisah Haru CJH Kota Madiun: Dari Nenek 76 Tahun hingga Remaja 16 Tahun Siap Berangkat Haji 2026

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. La syarika laka. Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan, dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada […]

    Bagikan
expand_less