Bukan Sekadar Film Horor, Ini Pesan Hanung Bramantyo di Balik Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 42
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun — Suasana mencekam langsung terasa sejak menit-menit awal film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah diputar. Beberapa jump scare muncul di tengah suasana gelap dan penuh misteri, membuat penonton sesekali tersentak.
Namun, ketegangan dalam film karya sutradara Hanung Bramantyo itu tidak berhenti pada kemunculan hantu atau kejutan visual. Di balik cerita pembunuhan misterius dan teror yang muncul setiap tanggal 30, film tersebut membawa penonton pada persoalan sejarah, tragedi kemanusiaan 1965, fitnah, konflik sosial, hingga sisi gelap manusia.
Film yang dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Mathias Muchus, dan Anya Zen tersebut berlatar sebuah desa yang dihantui serangkaian pembunuhan misterius yakni Desa Lobang Buaya. Teror yang terus berulang menjadi bagian penting dalam cerita sekaligus membuka pertanyaan mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi di baliknya. Film ini telah tayang di bioskop Indonesia sejak 1 Oktober 2026.
Hanung mengatakan penggunaan genre horor dalam film tersebut merupakan pilihan untuk menyampaikan gagasan yang lebih luas mengenai teror.
Dalam wawancara seusai pemutaran film di XXI Sun City Mall Kota Madiun, Sabtu (3/10/2026), Hanung menyebut karya-karyanya memiliki benang merah berupa peristiwa kelam dalam sejarah.
“Kalau menurut saya semuanya tentang peristiwa kelam, peristiwa kelam sejarah,” kata Hanung.
Menurutnya, horor tidak selalu berarti kehadiran makhluk gaib. Horor juga dapat berupa teror psikologis yang membuat seseorang mengalami ketakutan dan tekanan.
“Horor itu adalah psikologis, teror yang menyerang psikologis kita, yang membuat kita stres, yang membuat kita enggak bisa tidur,” ujarnya.
Karena itu, hantu dalam Lobang Buaya bukan menjadi satu-satunya sumber ketakutan. Unsur supernatural justru digunakan untuk memperkuat teror yang menjadi bagian dari persoalan sosial dan sejarah dalam film.
Salah satu pesan yang ingin disampaikan Hanung berkaitan dengan sejarah Lubang Buaya. Menurutnya, Lubang Buaya selama ini lebih banyak dikenal masyarakat sebagai lokasi sumur tempat ditemukannya jenazah sejumlah korban peristiwa 1965. Namun, ia menekankan bahwa Lubang Buaya merupakan nama sebuah desa.
Sebelum peristiwa 30 September 1965, Hanung menyebut Lubang Buaya sebagai desa mandiri yang dihuni 13 kepala keluarga.
“Tapi setelah sejak peristiwa itu akhirnya kemudian berubah menjadi hilang, 13 KK-nya menjadi enggak ada,” katanya.

Bagi Hanung, perubahan tersebut merupakan bagian dari sejarah yang perlu kembali diingat. Film ini dibuat agar generasi muda tidak melupakan rangkaian peristiwa September-Oktober 1965 serta berbagai kekerasan yang terjadi setelahnya di sejumlah daerah.
“Bahkan terjadi tragedi kemanusiaan, pembantaian massal yang terjadi di berbagai macam daerah yang mencapai korban lebih dari 500 ribu bahkan sampai 1,3 juta,” ujar Hanung.
Ia menyebut berbagai angka mengenai korban tragedi kemanusiaan pasca-1965. Namun, jumlah korban dalam rangkaian kekerasan tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah dan memiliki estimasi berbeda berdasarkan sumber maupun penelitian.
Pilihan menggunakan horor juga tidak terlepas dari pengalaman Hanung ketika mencoba mengembangkan proyek bertema 1965 dalam bentuk dokudrama.
Ia mengaku pernah menulis skenario berjudul September Night yang dirancang sebagai dokudrama mengenai peristiwa G30S. Proyek tersebut, kata Hanung, didukung riset dan sejumlah sejarawan, tetapi akhirnya tidak berlanjut karena ada sebuah persoalan.
Hanung juga menyebut pengalaman film-film lain yang mengangkat tema 1965 dan menghadapi persoalan penayangan.
Karena itu, ia kemudian memilih genre horor sebagai jalan untuk tetap mengangkat tema tersebut.
“Karena itu makanya saya coba deh, mungkin karena genrenya ya, ada pilihan genrenya. Oh ya, saya mencoba dengan genre horor,” katanya.
Selain sejarah 1965, Lobang Buaya juga membawa persoalan mengenai fitnah dan bagaimana informasi dapat memengaruhi masyarakat.
Bagi Hanung, persoalan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini ketika informasi dapat menyebar dengan cepat tanpa selalu diikuti pemeriksaan kebenaran.
Film tersebut juga memasukkan persoalan keagamaan melalui karakter kyai, dukun, serta pembahasan mengenai kitab dan tafsir.
Hanung mengatakan bagian tersebut merupakan kritik terhadap fenomena ketika kelompok-kelompok keagamaan yang sama-sama mengaku memiliki dasar keyakinan dapat saling menyerang dan menganggap kelompok lain paling benar.
Ia menegaskan bahwa istilah “kitab” yang dimaksud dalam konteks tersebut bukan Al-Qur’an, melainkan kitab atau tafsir yang merupakan hasil pemahaman ulama.
Menurutnya, persoalan tersebut kembali berkaitan dengan tema besar film mengenai fitnah, yakni bagaimana tafsir, informasi, dan keyakinan dapat membentuk persepsi sekaligus memicu konflik.
Bagi Hanung, Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah bukan sekadar film tentang hantu dan pembunuhan misterius. Horor digunakan sebagai medium untuk membawa penonton melihat kembali sejarah, mempertanyakan informasi yang diterima, sekaligus memikirkan bagaimana ketakutan dan fitnah dapat memengaruhi masyarakat. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





