Harga Jagung Magetan Tembus Rp7.400 per Kilogram, Petani Raup Cuan di Tengah Panen Raya
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 33
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Petani jagung di Kabupaten Magetan mendapat angin segar di tengah tingginya biaya produksi. Harga jagung pipil kering di tingkat petani kini menembus Rp7.400 per kilogram, bahkan berada sekitar Rp1.000 di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Bulog sebesar Rp6.400 per kilogram.
Harga tersebut meningkat sekitar 27,4 persen dibanding rata-rata harga jagung di tingkat produsen pada Oktober 2025 yang tercatat Rp5.808 per kilogram. Dalam setahun, kenaikannya mencapai Rp1.592 per kilogram.
Kenaikan harga ini terjadi ketika sejumlah daerah mulai memasuki masa panen raya. Kondisi tersebut menjadi keuntungan tambahan bagi petani karena produksi yang cukup baik di sejumlah sentra jagung turut diikuti harga jual yang relatif tinggi.
Salah seorang petani jagung di Desa Pragak, Kecamatan Parang, Taman, mengatakan hasil panen musim ini cukup menggembirakan. Menurutnya, produksi jagung yang diperoleh bahkan lebih tinggi dibandingkan ketika lahan yang sama ditanami padi.
“Alhamdulillah, dapat banyak. Hasil jagung kita dua kali lipat dibanding tanam padi,” kata Taman, Senin (5/10/2026).
Dengan hasil tersebut dan harga jual yang berada di kisaran Rp7.400 per kilogram, pendapatan dari satu musim tanam jagung dapat mencapai belasan juta rupiah. Sebagian pendapatan itu tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi disisihkan sebagai modal untuk musim tanam berikutnya.
Kondisi serupa juga dirasakan sejumlah petani lain di Desa Pragak, di antaranya Anang, Kamto, Slamet, dan Darmin. Harga jagung yang sedang tinggi dinilai cukup membantu petani menghadapi kebutuhan biaya produksi sekaligus mempersiapkan modal untuk musim tanam padi berikutnya.
Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo Budiwan Susanto membenarkan bahwa HPP jagung saat ini ditetapkan sebesar Rp6.400 per kilogram.
Namun, harga tersebut berlaku untuk jagung dengan persyaratan kualitas tertentu. Di antaranya kadar air maksimal 14 persen dan kandungan aflatoksin maksimal 50 parts per billion (ppb).
Dengan harga jagung di tingkat petani yang telah mencapai Rp7.400 per kilogram, terdapat selisih sekitar Rp1.000 per kilogram dibandingkan HPP tersebut.
Meski demikian, harga di tingkat petani tidak selalu bergerak mengikuti HPP karena dipengaruhi kondisi pasar, kualitas komoditas, pasokan, serta permintaan. Budiwan juga belum dapat memastikan penyebab utama kenaikan harga jagung yang terjadi saat ini.
“Kalau penyebab pastinya kami juga tidak tahu, tapi mungkin ada beberapa daerah yang terkena dampak El Nino,” ujarnya.
Tingginya harga jagung menjadi kabar baik bagi petani, tetapi keuntungan tersebut tidak serta-merta bisa dinikmati sepanjang tahun. Petani di wilayah Parang masih harus menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim.
Taman mengatakan, jagung relatif sulit tumbuh optimal ketika ditanam pada musim penghujan. Karena itu, petani di wilayahnya biasanya menerapkan pola tanam padi dua kali, kemudian dilanjutkan jagung ketika kondisi cuaca dinilai lebih mendukung.
“Musim hujan jagung sulit tumbuh. Di sini dalam satu tahun biasanya padi, padi, baru jagung. Kalau memaksa tanam jagung saat musim hujan tentu tidak akan berhasil,” jelasnya.
Pola tersebut membuat petani tidak bisa langsung memperluas tanaman jagung hanya karena harga sedang tinggi. Faktor cuaca dan kesesuaian musim tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan komoditas yang akan ditanam.
Bagi petani, bertahannya harga di level Rp7.400 per kilogram menjadi harapan tersendiri. Selain membantu meningkatkan pendapatan dari panen, harga tinggi juga memberikan ruang bagi petani untuk mengembalikan modal produksi dan menyiapkan biaya menghadapi musim tanam berikutnya.
Petani kini berharap harga jagung tetap bertahan hingga seluruh hasil panen terserap pasar. Sebab, di tengah biaya produksi yang terus menjadi beban, harga jual menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tingkat keuntungan yang diterima petani. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krs/Diez





