Harga Beras di Madiun Naik, Premium Tembus Rp15.300 per Kg, Warga Beralih ke Beras Medium
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 50
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Madiun mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan terjadi pada beras medium maupun premium, bahkan harga beras premium kini telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Pantauan di Pasar Pagotan, Kecamatan Geger, Selasa (7/7/2026), menunjukkan harga beras medium naik dari Rp13.000 menjadi Rp13.500 per kilogram. Sementara beras premium yang sebelumnya dijual Rp14.300 per kilogram kini mencapai Rp15.300 per kilogram atau sekitar Rp400 di atas HET sebesar Rp14.900 per kilogram.
Pedagang beras di Pasar Pagotan, Mochallan Irnanda Yusuf, mengatakan lonjakan harga dipicu kenaikan harga gabah di tingkat petani, baik Gabah Kering Panen (GKP) maupun Gabah Kering Giling (GKG). Kondisi tersebut membuat pedagang tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga jual.
“Untuk beras premium saat ini harganya sudah di atas HET yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp14.900 per kilogram,” ujar Yusuf, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, kenaikan harga beras mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Konsumen yang sebelumnya membeli beras premium kini beralih ke beras medium sebagai upaya mengurangi pengeluaran rumah tangga.
“Yang biasanya membeli beras premium sekarang beralih ke beras medium karena menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan belanja,” katanya.
Namun, pilihan masyarakat untuk berhemat juga semakin terbatas. Pasalnya, harga beras medium turut mengalami kenaikan meski tidak setinggi beras premium.
Yusuf mengaku dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pedagang. Margin keuntungan semakin menipis, sementara permintaan beras mengalami penurunan.
“Keuntungan semakin tipis. Harga yang tinggi memengaruhi permintaan. Penjualan beras medium maupun premium sama-sama turun cukup signifikan,” ungkapnya.
Ia menilai penurunan penjualan juga dipengaruhi belum normalnya distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penyaluran beras SPHP masih dihentikan sementara selama masa libur sekolah.
Padahal, lanjut Yusuf, beras SPHP menjadi pilihan utama masyarakat karena dijual dengan harga lebih murah dibandingkan beras komersial.
“SPHP selalu diminati. Kalau stok datang biasanya cepat habis. Kami sebagai pedagang juga dibatasi, maksimal hanya bisa mengambil dua ton dalam seminggu sesuai jadwal dari Bulog,” ujarnya.
Meski harga terus merangkak naik, Yusuf memastikan ketersediaan beras di Kabupaten Madiun masih aman. Pasokan dari penggilingan padi maupun cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Foto : Harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Madiun mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir, warga beralih membeli beras medium. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





