Kemarau Panjang, Puluhan Hektare Sayuran Petani Magetan Gagal Panen, Air Telaga Sarangan Susut Lebih dari 50 Persen
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 53 menit yang lalu
- visibility 22
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kemarau panjang mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Puluhan hektare tanaman sayuran milik petani di wilayah Kecamatan Plaosan mengalami gagal panen akibat kekurangan air. Tanaman kubis, terong, hingga tomat layu dan sebagian mati di lahan karena tidak lagi mendapatkan pasokan air yang cukup.
Dampak kemarau juga terlihat di kawasan wisata Telaga Sarangan. Volume air telaga yang berada di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, tersebut menyusut drastis hingga lebih dari 50 persen. Sejumlah bebatuan yang biasanya terendam air kini mulai terlihat di tepian telaga.
Di Kelurahan Plaosan dan Desa Sidomulyo, Kecamatan Plaosan, puluhan hektare tanaman sayuran milik petani dilaporkan mengalami gagal panen. Minimnya pasokan air membuat tanaman tidak mampu tumbuh normal, bahkan sebagian mati sebelum sempat dipanen.
Petani hanya bisa pasrah melihat tanaman yang telah mereka rawat mengering di lahan. Kondisi tersebut juga membuat sebagian petani enggan kembali ke kebun karena khawatir usaha mereka tidak lagi memberikan hasil.
Salah seorang petani, Sukiyo, mengaku tanaman yang ditanamnya tidak dapat bertahan akibat tidak tersedianya air untuk menyiram lahan.
“Malas ke kebun, Mas. Tanam apa saja mati karena tidak ada air. Petani gagal panen semua,” keluh Sukiyo.
Selain kehilangan hasil produksi, petani juga berisiko tidak dapat menutup biaya yang telah dikeluarkan untuk penanaman dan perawatan tanaman.
Petani berharap kemarau panjang segera berakhir agar ketersediaan air kembali normal dan kegiatan pertanian dapat berjalan seperti semula.
Sementara itu, penyusutan air juga terjadi di Telaga Sarangan. Kapasitas air telaga yang dalam kondisi normal mencapai sekitar tiga juta meter kubik kini berkurang drastis hingga lebih dari 50 persen akibat kemarau panjang.

Menyusutnya permukaan air membuat kondisi tepian telaga berubah. Bebatuan yang sebelumnya terendam kini bermunculan, sedangkan akses pengunjung yang hendak menaiki speedboat harus menyesuaikan dengan posisi permukaan air yang semakin rendah.
Rendy, salah seorang pemilik speedboat di Telaga Sarangan, mengatakan penyusutan air tidak lepas dari pemanfaatan air telaga untuk berbagai kebutuhan, termasuk irigasi pertanian dan pasokan bagi Pabrik Gula Rejosari di Magetan.
“Air juga dialirkan untuk irigasi sawah dan pabrik gula, sehingga air di telaga menyusut lebih dari separuh. Pengunjung yang hendak naik speedboat harus turun ke pinggir telaga,” jelas Rendy.
Meski mengalami penyusutan, sisa air Telaga Sarangan masih dimanfaatkan untuk mendukung pengairan sawah di belasan desa yang berada di Kecamatan Plaosan dan Poncol, serta untuk kebutuhan Pabrik Gula Rejosari.
Di tengah keterbatasan air, petani yang mengandalkan pasokan dari Telaga Sarangan diimbau mengikuti pola tanam yang disarankan agar risiko kerugian dapat ditekan.
Penyesuaian pola tanam menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi kondisi cuaca kering, terutama bagi petani sayuran yang membutuhkan pasokan air secara rutin selama masa pertumbuhan tanaman.
Petani kini berharap hujan segera turun agar lahan pertanian kembali mendapatkan pasokan air. Selain untuk memulihkan kondisi tanaman, ketersediaan air yang memadai juga dibutuhkan agar produksi sayuran kembali normal dan pasokan di pasaran tetap terjaga.
Jika kemarau terus berlangsung, tekanan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air di wilayah Magetan berpotensi semakin besar. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krz/Diez





