Viral! Bengawan Solo di Ngawi Berubah Jadi Hamparan Bunga Enceng Gondok
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 50 menit yang lalu
- visibility 24
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Pemandangan tak biasa terlihat di aliran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di bawah Jembatan Payak, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Saat debit air menyusut akibat musim kemarau, permukaan sungai justru dipenuhi hamparan bunga enceng gondok yang membentang lebih dari satu kilometer.
Fenomena alam yang terekam melalui video drone tersebut ramai beredar di media sosial sejak sepekan terakhir. Hamparan bunga berwarna ungu muda itu menarik perhatian warga dari berbagai daerah yang datang untuk menyaksikan langsung sekaligus berburu foto di tengah sungai yang mengering.
Suasana sore menjelang matahari terbenam menjadi waktu favorit pengunjung. Cahaya matahari yang menyinari hamparan bunga menghadirkan pemandangan berbeda dari kondisi Sungai Bengawan Solo yang biasanya dikenal dengan aliran airnya.

Salah seorang pengunjung, Alya Syaifa Nur Hafizzah, mengaku tertarik datang karena banyaknya bunga enceng gondok yang bermekaran di sungai tersebut. Menurutnya, lokasi itu ramai dikunjungi warga setiap sore selama musim kemarau.
“Karena banyak tumbuh bunga enceng gondok. Tumbuhnya saat kemarau saja, dan setiap sore ramai, pengunjung datang dari mana-mana,” ujarnya.
Pengunjung lainnya, Eka Wulandari, mengatakan dirinya datang setelah mengetahui fenomena tersebut viral di media sosial. Kondisi sungai yang mengering membuat hamparan bunga enceng gondok terlihat semakin jelas.

Warga setempat, Ayu Puspita, menuturkan bunga enceng gondok mulai tumbuh dan menutupi permukaan sungai ketika kemarau berlangsung. Hamparan tanaman itu bahkan terlihat merata di sejumlah bagian sungai.
“Awalnya kemarau panjang, kemudian enceng gondok berbunga hingga menutupi sungai. Sampai rata seperti ini,” kata Ayu.
Di lokasi tersebut, pengunjung dapat berjalan menyusuri bebatuan sungai hingga mendekati bagian tengah untuk melihat bunga dari jarak dekat. Sebagian pengunjung juga memetik bunga untuk dibawa pulang.
Namun, di balik pemandangan yang menarik, kondisi sungai tetap perlu diwaspadai. Meski sebagian aliran mengering, terdapat sejumlah titik yang masih menyimpan genangan air cukup dalam. Pengunjung diimbau berhati-hati saat berjalan dan tidak memaksakan diri menuju bagian sungai yang belum diketahui kedalamannya.
Fenomena hamparan bunga enceng gondok ini diperkirakan tidak akan bertahan lama. Ketika musim hujan tiba dan debit Sungai Bengawan Solo kembali meningkat, arus banjir berpotensi menghanyutkan tanaman yang menutupi permukaan sungai tersebut. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krz/Diez





