
Sinergia | Luwu Timur – Potensi minyak nilam di kawasan transmigrasi Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mulai mencuat sebagai komoditas unggulan baru. Hamparan lahan subur di kaki pegunungan kini menjadi ruang tumbuh bagi tanaman nilam yang bernilai ekonomi tinggi dan berpeluang mengangkat nama Mahalona di tingkat nasional.
Penelusuran ini merupakan bagian dari tugas Tim Ekspedisi Patriot yang sejak 1 September 2025 ditempatkan Kementerian Transmigrasi untuk memetakan potensi unggulan di kawasan transmigrasi. Dari berbagai observasi dan dialog dengan petani, tim menemukan bahwa nilam merupakan komoditas yang paling siap dikembangkan sebagai penopang ekonomi baru masyarakat.
Selama ini masyarakat Mahalona Raya fokus pada komoditas seperti padi, kakao, lada, dan jagung. Namun, tanaman nilam yang tumbuh di sela-sela kebun ternyata menyimpan nilai ekonomi jauh lebih tinggi. Daun nilam menjadi bahan baku minyak atsiri yang dibutuhkan industri parfum, sabun, kosmetik, hingga aromaterapi.
“Kami awalnya tidak terlalu memperhatikan nilam, karena lebih fokus ke tanaman pangan. Setelah dijelaskan tim Patriot, baru kami tahu kalau harganya tinggi sekali di pabrik,” ungkap Darwis, salah satu petani di Mahalona Raya.
Agroklimat Mahalona yang memiliki curah hujan stabil dan suhu ideal menjadikan nilam tumbuh subur tanpa perawatan rumit. Kondisi ini membuat produktivitasnya berpotensi meningkat signifikan jika dibudidayakan secara terencana.
Potensi besar ini terbukti melalui capaian pada 20 Oktober 2025. Tim Ekspedisi Patriot berhasil mengoordinasikan pengiriman 1.000 kilogram minyak nilam ke pabrik minyak atsiri di Subang, Jawa Barat. Minyak dikemas dalam lima tong dan diangkut menggunakan mobil single cabin.
Tekad Urip PS, Tim Dosen ekspedisi patriot IPB university, mengatakan bahwa pengiriman ini menjadi tonggak penting. “Ini bukti konkret bahwa petani Mahalona mampu masuk dalam rantai pasok minyak atsiri nasional. Kami hanya membantu mengoordinasikan, selebihnya adalah kerja keras petani,” jelasnya.
Harga jual minyak nilam saat pengiriman mencapai Rp620.000 per kilogram, memberikan pendapatan signifikan bagi kelompok petani yang terlibat. Tim Ekspedisi Patriot menilai bahwa langkah strategis selanjutnya adalah memperkuat proses produksi dari hulu hingga hilir.
“Nilam tidak cukup hanya ditanam. Harus ada rantai yang kuat, mulai dari budidaya, penyulingan, hingga pemasaran. Jika ini terbentuk, Mahalona bisa jadi sentra atsiri yang besar,” ujar Tekad menegaskan.
Pihaknya juga mendorong pemerintah daerah dan sektor swasta berkolaborasi untuk menyiapkan pendampingan teknis, fasilitas penyulingan yang lebih modern, dan akses pasar yang lebih luas.
Bagi masyarakat, kehadiran nilai ekonomi baru dari nilam menjadi penyemangat. “Kalau harganya stabil dan kami dibina cara tanam serta penyulingannya, pasti banyak petani yang mau menanam nilam lebih serius,” tutur Darwis menambahkan.
Dengan potensi yang telah terlihat, banyak pihak optimistis bahwa Mahalona berpeluang menjadi salah satu pusat minyak nilam unggulan di Indonesia Timur. Nilam kini bukan hanya tanaman sampingan, tetapi simbol harapan baru dari kawasan transmigrasi yang terus tumbuh melalui kolaborasi dan pemanfaatan potensi lokal.(Istimewa).