Khofifah Ziarah ke Makam Gubernur Suryo, Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Kuat Menjaga Kemerdekaan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 51 menit yang lalu
- visibility 28
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali memimpin ziarah ke makam Raden Mas Tumenggung (R.M.T.) Ario Soerjo atau Gubernur Suryo di Kabupaten Magetan, Selasa (6/10/2026). Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.
Bagi Pemprov Jawa Timur, makam Gubernur Suryo bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang pahlawan. Setiap tahun, makam tokoh yang dikenal sebagai gubernur pertama Jawa Timur setelah Indonesia merdeka itu menjadi tujuan awal ziarah dalam rangkaian peringatan hari jadi provinsi.
Khofifah mengatakan, perjuangan Gubernur Suryo pada masa awal kemerdekaan memberikan pelajaran penting mengenai keberanian mengambil keputusan ketika negara berada dalam situasi genting.
Menurutnya, salah satu momen paling menentukan terjadi pada November 1945 ketika Surabaya menghadapi tekanan pasukan Sekutu. Setelah Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran di Surabaya, pihak Inggris mengeluarkan ultimatum agar para pemimpin Indonesia, tokoh pemuda, hingga petugas radio menyerahkan diri tanpa syarat.
Dalam situasi tersebut, Presiden Soekarno menyerahkan keputusan kepada Gubernur Suryo terkait sikap yang harus diambil Jawa Timur menghadapi ultimatum tersebut.
“Ini bukan sesuatu yang sederhana karena di situlah pertaruhan mempertahankan kemerdekaan di awal-awal kita merdeka,” kata Khofifah seusai ziarah di makam Gubernur Suryo.
Khofifah menilai Gubernur Suryo menunjukkan keberanian dan kepemimpinan yang kuat. Alih-alih tunduk terhadap tekanan, Gubernur Suryo memilih mempertahankan kemerdekaan dan mengobarkan semangat perjuangan rakyat Surabaya.
“Beliau memiliki strong leadership, kepemimpinan yang sangat kuat. Hari itu kalau kepemimpinannya tidak kuat, bangsa ini bisa oleng,” ujarnya.
Sikap tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian peristiwa yang mengantarkan rakyat Surabaya pada perlawanan besar 10 November 1945. Pidato Gubernur Suryo yang disiarkan melalui radio pada malam 9 November menjadi salah satu simbol keberanian rakyat Jawa Timur menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan.

Khofifah mengatakan, keberanian Gubernur Suryo tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah. Nilai tersebut, menurutnya, harus terus direfleksikan dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa saat ini.
“Mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia perlu keberanian selain semangat juang. Harapan kita napas perjuangan dan keberanian untuk membela kemerdekaan itu akan menjadi refleksi kita bersama sebagai warga bangsa,” katanya.
R.M.T. Ario Soerjo lahir di Magetan pada 9 Juli 1898. Ia kemudian dipercaya menjadi Gubernur Jawa Timur pertama setelah Indonesia merdeka.
Perjalanan hidupnya berakhir tragis pada 10 September 1948. Gubernur Suryo gugur dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Madiun setelah menjadi korban pembunuhan oleh kelompok yang berafiliasi dengan pemberontakan PKI Madiun.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya, Kabupaten Magetan. Makam tersebut hingga kini menjadi salah satu situs bersejarah sekaligus simbol perjuangan kemerdekaan di Jawa Timur.
Khofifah menegaskan, penghormatan terhadap Gubernur Suryo akan terus dilakukan Pemprov Jawa Timur. Sejak mendapat mandat memimpin Jawa Timur, ia mengaku selalu memimpin langsung ziarah ke makam gubernur pertama tersebut.
“Sejak kami mendapat mandat di Pemprov, yang memimpin ziarah ke gubernur pertama Raden Mas Tumenggung Ario Soeryo itu selalu saya. Ini bagian dari penghormatan sekaligus bagaimana kita merefleksikan perjuangan beliau dalam konteks perjuangan hari ini,” tutur Khofifah.
Menurut Khofifah, tantangan mempertahankan kemerdekaan saat ini memang berbeda dengan situasi yang dihadapi para pejuang pada 1945. Namun, nilai keberanian, keteguhan, dan kepemimpinan tetap relevan untuk diterapkan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menjadikan keteladanan Gubernur Suryo sebagai bagian dari refleksi dalam mengisi kemerdekaan.
“Kepemimpinan yang kuat harus menjadi bagian dari kita semua, di sektor kita masing-masing, di bidang kita masing-masing,” katanya.
Ziarah tersebut turut dihadiri Bupati Magetan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur dan Kabupaten Magetan, serta para pelajar.
Bagi Pemprov Jawa Timur, tradisi ziarah ke makam Gubernur Suryo bukan hanya agenda seremonial dalam memperingati hari jadi provinsi. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang Jawa Timur sekaligus meneguhkan semangat kepemimpinan dan nasionalisme yang diwariskan para pendahulu bangsa. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krs/Diez





