Berita Terkini
Trending Tags

Menelusuri Jejak Para Leluhur, Membaca 351 Tahun Sejarah Magetan

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 41
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Bupati Magetan menziarahi makam Ki Mageti, makan Adipati Yosonegoro dan makam Patih Nrang Kusumo. Foto : Kus-Sinergia.

Sinergia | Magetan – Sejarah Kabupaten Magetan tidak hanya tersimpan dalam dokumen dan catatan pemerintahan. Jejaknya juga melekat pada makam para tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan daerah ini dari masa ke masa.

Tujuh makam leluhur yang menjadi bagian dari sejarah Magetan membawa masyarakat pada perjalanan panjang sejak kisah awal terbentuknya daerah, munculnya pemerintahan kabupaten, hingga keterkaitan Magetan dengan dinamika kekuasaan Jawa dan perjuangan pada masa awal kemerdekaan.

Salah satu jejak paling awal dapat ditemukan pada sosok Ki Ageng Mageti. Dalam riwayat sejarah lokal, Ki Ageng Mageti disebut sebagai salah satu tokoh yang berkaitan dengan pembukaan wilayah yang kemudian berkembang menjadi Magetan. Namanya bahkan menjadi bagian dari narasi mengenai asal-usul nama daerah ini.

Dari kisah tersebut, perjalanan sejarah bergerak memasuki fase pemerintahan. Adipati Yosonegoro, yang dikenal sebagai bupati pertama Magetan, menjadi salah satu figur penting dalam babak awal terbentuknya pemerintahan kabupaten.

Nama aslinya disebut Basah Bibit Gondokusumo sebelum kemudian bergelar Adipati Yosonegoro. Makamnya di Tambran menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah pemerintahan Magetan.

Fase awal tersebut kemudian berlanjut pada masa Ronggo Galih, yang dikenal sebagai bupati kedua Magetan. Dua tokoh ini menunjukkan bagaimana kisah para leluhur tidak hanya berbicara mengenai asal-usul daerah, tetapi juga tentang terbentuknya sistem pemerintahan yang kemudian berkembang hingga sekarang.

Sejarah Magetan juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan kekuasaan Jawa. Hal itu tercermin dari sosok Nrang Kusumo, yang dalam riwayat lokal disebut sebagai patih Sultan Amangkurat I dan memiliki hubungan dengan lingkungan kekuasaan Mataram.

Jejak lainnya terlihat pada Gusti Putri Maduretno dan Raden Ronggo Prawirodirdjo III. Keduanya dimakamkan di kompleks makam Maduretno, Giripurno, dan menjadi bagian dari sejarah keluarga bangsawan serta kekuasaan lokal di kawasan Magetan.

Sementara itu, Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat, yang dikenal sebagai bupati Magetan keenam, memperlihatkan semakin panjangnya mata rantai pemerintahan daerah. Kompleks makamnya di Pacalan, Plaosan, juga menyimpan jejak tokoh lain, termasuk Ki Ageng Kembang Sore.

Di Kepolorejo, kompleks Sasono Mulyo menyimpan jejak sejumlah penguasa Magetan masa lalu, termasuk Raden Mas Aryo Kertonegoro dan beberapa bupati lainnya.

Salah satu nama yang memberikan dimensi lebih luas terhadap sejarah tersebut adalah R.M.T. Suryo. Ia merupakan salah satu tokoh yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Magetan dan kemudian tercatat sebagai Gubernur Jawa Timur pertama setelah Indonesia merdeka.

Rangkaian nama tersebut menunjukkan bahwa sejarah Magetan tidak terbentuk dalam satu periode maupun oleh satu tokoh. Ia merupakan hasil perjalanan panjang yang mempertemukan kisah pembukaan wilayah, pemerintahan, keluarga bangsawan, dinamika kekuasaan Jawa hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Karena itu, mengenang para leluhur bukan semata-mata melihat masa lalu. Ada nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti mengatakan, para tokoh tersebut perlu dihormati sekaligus diteladani karena memiliki jasa dalam perjalanan Kabupaten Magetan.

“Tujuh makam leluhur itu harus kita hormati, kita teladani perjuangannya, khususnya untuk memperjuangkan Kabupaten Magetan. Jadi kita sebagai penerus harus menghormati jasa-jasa beliau itu dan meneladani suri teladan dari beliau,” ujar Nanik.

Menurut Nanik, keteladanan tersebut tidak berhenti pada penghormatan terhadap sejarah, tetapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu menempatkan sejarah bukan sekadar cerita tentang tokoh masa lalu. Bagi Magetan yang kini memasuki usia 351 tahun, sejarah menjadi cermin untuk melihat bagaimana daerah ini dibangun, nilai apa yang diwariskan, dan tanggung jawab apa yang harus diteruskan oleh generasi sekarang.

Tujuh makam tersebut pada akhirnya bukan sekadar tempat peristirahatan para leluhur. Ia menjadi penanda perjalanan panjang Magetan—dari sebuah wilayah yang dibangun oleh para pendahulu, berkembang menjadi pemerintahan, melewati berbagai perubahan zaman, hingga menjadi kabupaten yang terus bergerak menuju masa depan.

Membaca kembali jejak para leluhur berarti membaca kembali 351 tahun perjalanan Magetan, bukan untuk berhenti pada masa lalu, melainkan untuk memahami akar sejarah dan menjadikannya pijakan dalam membangun Magetan berikutnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Krs/Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berkas Perkara Wali Kota Madiun Nonaktif, Maidi Segera Rampung, KPK Siapkan Dakwaan

    Berkas Perkara Wali Kota Madiun Nonaktif, Maidi Segera Rampung, KPK Siapkan Dakwaan

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan proses penyidikan kasus dugaan korupsi yang menjerat Wali Kota Madiun nonaktif, Maidi, telah memasuki tahap akhir. Kasus yang bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) pada Januari 2026 itu kini berada dalam tahap penyiapan dakwaan sebelum dilimpahkan ke pengadilan. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan lembaga […]

    Bagikan
  • Tradisi Lebaran yang Bikin Kangen! Dari Sungkeman Haru hingga Anak-anak Berburu “Rezeki Dadakan”

    Tradisi Lebaran yang Bikin Kangen! Dari Sungkeman Haru hingga Anak-anak Berburu “Rezeki Dadakan”

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Suasana hangat dan penuh haru mewarnai perayaan Hari Raya Idul Fitri di berbagai daerah, termasuk di Desa Gontor, Kecamatan Gontor, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tradisi mudik atau “mulih disik” kembali menjadi momen yang paling dinanti, ketika para perantau pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Usai melaksanakan salat Idul Fitri, […]

    Bagikan
  • Eksplor Ruang Terbuka Hijau Yang Indah dan Nyaman di Kota Madiun (2)

    Eksplor Ruang Terbuka Hijau Yang Indah dan Nyaman di Kota Madiun (2)

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 454
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota Madiun terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan dengan memperbanyak dan merawat Ruang Terbuka Hijau (RTH). Tiga kawasan RTH yang kini menjadi tempat bermain warga Kota Madiun, yaitu RTH Kanigoro, RTH Pilangbango, dan RTH Taman Kelun, semakin diminati sebagai tempat beristirahat dan rekreasi keluarga. RTH Kanigoro, yang terletak di […]

    Bagikan
  • 677 Kios Pasar Dialihkan ke Penyewa, Pemkot Madiun Pastikan Penataan Sesuai Aturan

    677 Kios Pasar Dialihkan ke Penyewa, Pemkot Madiun Pastikan Penataan Sesuai Aturan

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota Madiun mulai melakukan pengalihan dan penataan ulang kios di sejumlah pasar tradisional. Total 677 kios yang sebelumnya disegel kini dialihkan kepada penyewa yang menempati sesuai ketentuan. Salah satu lokasi yang menjadi fokus kegiatan adalah Pasar Sleko di Jalan Trunojo Kota Madiun, Jawa Timur. Langkah ini merupakan tindak lanjut […]

    Bagikan
  • Alokasi Pupuk Subsidi Tahun 2025 di Ponorogo Sebanyak 57 Ribu Ton.

    Alokasi Pupuk Subsidi Tahun 2025 di Ponorogo Sebanyak 57 Ribu Ton.

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab Ponorogo – Pemerintah pusat menetapkan alokasi pupuk bersubsidi untuk petani di Ponorogo pada tahun 2025 ini mencapai 57 ribu ton. Dengan rincian 30,4 ribu ton Urea, 22,3 ribu ton NPK, dan 4,5 ribu ton pupuk organik. Penyalurannya akan dilakukan melalui 2.024 kelompok tani di wilayah ini. Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian […]

    Bagikan
  • Petisi Daring Desak APBD Magetan Lebih Pro Rakyat, DPRD Diberi Tenggat 10 Hari

    Petisi Daring Desak APBD Magetan Lebih Pro Rakyat, DPRD Diberi Tenggat 10 Hari

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Dorongan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Magetan berpihak pada masyarakat kecil semakin nyaring terdengar. Sejak 4 September 2025, sebuah petisi daring bertajuk “Kawal Pembahasan Perubahan APBD Magetan untuk Lebih Pro Rakyat” ramai mendapat perhatian publik. Petisi tersebut digagas oleh Agus Pujiono, anggota Forum Rumah Keterbukaan Informasi dan Transparansi […]

    Bagikan
expand_less