Menjelang Lebaran, Gas Elpiji 3 Kilogram di Ngawi Langka, Warga Terpaksa Beralih ke Kayu Bakar
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 17
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Sudah lebih dari dua pekan, warga kesulitan mendapatkan gas melon tersebut di tingkat pengecer. Hal itu membuat sebagian dari warga terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Di Desa Wonokerto, Kecamatan Kedunggalar, situasi tersebut membuat warga harus berkeliling dari satu pengecer ke pengecer lain. Namun, gas tetap sulit didapat. Kalaupun tersedia, harganya melonjak drastis hingga mencapai Rp35.000 per tabung, jauh di atas harga sebelumnya yang berkisar Rp22.000.
Warohmah, salah satu warga, mengaku kondisi ini terjadi sejak awal Ramadan. “Susah pak, susah. Semenjak puasa itu elpiji sudah langka. Kalau tidak, warga terpaksa pakai kayu bakar. Kalau pun ada, harganya 30 ribu ke atas,” ujarnya.
Para pengecer juga mengaku kewalahan. Jatah pengiriman dari pangkalan disebut mengalami pengurangan signifikan, dari semula 50–60 tabung menjadi hanya sekitar 20 tabung per minggu. Kondisi ini membuat mereka tidak mampu memenuhi permintaan pelanggan.
“Parah pak, parah. Elpiji langka. Saya saja hanya dijatah 20 sekarang, sebelumnya 50 sampai 60 tabung per minggu. Penyebabnya tidak tahu, katanya barang langka,” tutur Margo Sampun, salah satu pengecer di wilayah tersebut.
Kendati demikian, tidak ada konfirmasi mengenai pengurangan kuota dari pihak distributor ataupun SPBE. Namun, awak media tidak mendapatkan kesempatan melakukan peliputan di pangkalan karena pemilik melarang pengambilan gambar.
Kelangkaan gas juga dirasakan para pedagang kuliner di sepanjang Jalan Raya Desa Kedunggalar. Banyak pedagang harus berburu gas hingga ke desa tetangga, dengan harga di tingkat pengecer yang mencapai Rp30.000 hingga Rp35.000 per tabung.
Ayu Ekowati, pedagang ayam goreng, mengaku kondisi ini sangat menyulitkan. “Susah pak mencari ke sana kemari. Harganya pun 30 ribu sampai 35 ribu. Terpaksa kita beli karena jualan kita gunakan gas,” kata Ayu.
Bahkan sebagian pedagang terpaksa menutup sementara lapak dagang karena tidak mendapatkan pasokan gas untuk memasak.
Tidak hanya di Kedunggalar, kelangkaan gas elpiji 3 kilogram juga dirasakan warga di sejumlah desa di Kecamatan Widodaren. Warga berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pengecekan distribusi serta memastikan ketersediaan pasokan menjelang Lebaran, saat kebutuhan masyarakat meningkat. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez







