
Sinergia | Ponorogo – Banjir yang melanda wilayah Kabupaten Ponorogo pada awal Januari 2026 menjadi petaka bagi para petani. Ratusan hektare lahan pertanian dilaporkan tergenang air, bahkan sebagian di antaranya dipastikan mengalami gagal panen atau puso.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo mencatat, sedikitnya 538 hektare lahan pertanian terendam banjir yang terjadi pada 2 Januari 2026 lalu. Dari luasan tersebut, sekitar 28 hektare dinyatakan puso.
Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dispertahankan Ponorogo, Suwarni, mengatakan genangan banjir menyebabkan kerusakan tanaman padi yang tidak dapat diselamatkan.
“Data yang masuk ada ratusan hektare sawah tergenang air, dan 28 hektare di antaranya dipastikan puso,” ujar Suwarni, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, lahan pertanian yang terdampak banjir tersebar di tujuh kecamatan, yakni Balong, Jetis, Siman, Bungkal, Slahung, Sambit, dan Kauman.
Adapun lahan yang dipastikan mengalami gagal panen berada di Desa Madusari, Kecamatan Siman, seluas 11 hektare.
Selain itu, juga terjadi di Desa Josari seluas 7,2 hektare dan Desa Winong seluas 9,8 hektare, yang berada di Kecamatan Jetis.
Sementara itu, di Kecamatan Sambit, Kauman, dan Slahung, kondisi genangan telah surut. Tanaman padi di wilayah tersebut masih berpeluang tumbuh kembali sehingga belum ditemukan kasus padi rusak.
“Genangan air di wilayah itu tidak berlangsung lama, sehingga tanaman masih bisa diselamatkan,” jelasnya.
Meski demikian, Suwarni menyebut luasan lahan tanaman padi rusak berpotensi bertambah. Saat ini, petugas masih melakukan verifikasi di sejumlah wilayah yang terdampak, terutama di Kecamatan Balong. “Yang masih kami verifikasi ada di Desa Bajang, Ngampel, hingga Karangan. Jika ada perkembangan data terbaru, akan kami sampaikan kembali,” pungkasnya.(ega).