
Sinergia | Magetan – Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan selama ini dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata alam terpopuler di Jawa Timur. Hamparan telaga dengan latar perbukitan hijau dan udara sejuk menjadi daya tarik wisatawan sejak masa kolonial Belanda. Namun di balik pesonanya, kawasan ini menyimpan babak sejarah yang jarang disorot.
Yakni hadirnya komunitas warga Jerman yang sempat membangun permukiman lengkap dengan sekolah dan fasilitas pendukung pada awal 1940-an.
Kisah kampung Jerman di Sarangan tidak terlepas dari pergolakan global saat Perang Dunia II. Ketika Jepang berhasil menguasai Indonesia pada 1942 dan memaksa Belanda mundur, sekutu-sekutu Jepang (termasuk Jerman) memperluas pengaruhnya ke wilayah Nusantara. Dalam konteks politik internasional saat itu, kehadiran warga Jerman di Indonesia bukanlah hal mengejutkan.
Sarangan menjadi salah satu titik yang dipilih karena memiliki kondisi alam yang dianggap serupa dengan Eropa. Udara pegunungan yang dingin, lanskap telaga yang menenangkan, serta topografi dataran tinggi menjadikan daerah ini ideal untuk tempat tinggal sementara maupun pusat aktivitas komunitas asing.
Warga Jerman yang datang kemudian tidak hanya menetap, tetapi membangun sejumlah fasilitas termasuk kompleks pendidikan formal yang kelak dikenal sebagai Sekolah Jerman.
Pemerhati sejarah Magetan, Waluyo Utomo, menegaskan bahwa jejak kampung Jerman di Sarangan sulit ditelusuri karena dokumentasi resmi sangat terbatas. Menurutnya, banyak arsip masa pendudukan Jepang dan catatan komunitas Jerman hilang atau tidak pernah dipublikasikan.
“Literatur tentang kampung Jerman di Sarangan hampir tidak ada. Satu-satunya rujukan yang saya miliki hanya sebuah buku berbahasa Jerman yang memuat cerita dan foto-foto mereka,” ujar Waluyo.
Buku yang dimaksud berjudul “Die Erinnerung ist das einzige Paradies, aus welchem wir nicht getrieben werden können” karya Jean Paul (1989). Dari buku itulah ia menemukan rekam jejak kehidupan warga Jerman yang pernah bermukim di Sarangan.
Salah satu catatan penting dalam buku tersebut adalah peresmian sekolah Jerman pada 20 April 1943, bertepatan dengan ulang tahun Adolf Hitler. Pemilihan tanggal itu dianggap sebagai simbol hubungan ideologis dan politis antara komunitas Jerman di Sarangan dengan pemerintahan Nazi Jerman.

Waluyo mengungkapkan bahwa sekolah tersebut memiliki struktur pendidikan yang lengkap, mulai dari tingkat Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Tinggi. Total terdapat sekitar 125 siswa, yang seluruhnya merupakan anak-anak warga Jerman yang tinggal di kawasan itu.
Ada 15 guru perempuan dan satu guru laki-laki, berasal dari Jerman maupun Jepang. Kurikulum sekolah memadukan berbagai disiplin ilmu, mulai dari bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Prancis, matematika, ilmu pengetahuan alam, sejarah, hingga pelajaran umum lainnya.
“Sekolah itu dibuat untuk anak-anak Jerman saja, bukan untuk warga pribumi,” terang Waluyo, menekankan eksklusivitas pendidikan kolonial masa itu.
Kehadiran sekolah berstandar Eropa di tengah kawasan pegunungan Jawa menjadi salah satu bukti bahwa komunitas Jerman di Sarangan cukup mapan dan memiliki struktur sosial yang terorganisasi.
Kehidupan komunitas Jerman di Sarangan mulai memudar ketika Jepang kalah pada akhir Perang Dunia II. Jepang menarik mundur pasukannya dari Indonesia, sementara warga Jerman juga kembali ke tanah asal atau meninggalkan wilayah koloni Jepang yang runtuh.
Pada masa pascakemerdekaan Indonesia, situasi politik semakin memanas. Terjadinya agresi militer Belanda mendorong sejumlah daerah menerapkan kebijakan bumi hangus, termasuk pembakaran bangunan-bangunan peninggalan kolonial agar tidak jatuh ke tangan penjajah.
Akibat kebijakan ini, hampir semua bangunan komunitas Jerman di Sarangan hilang tanpa bekas.
“Saat ini yang tersisa hanya prasasti kecil sebagai tanda penghargaan dari warga Jerman untuk Indonesia, letaknya di tembok pembatas kawasan telaga,” jelas Waluyo.
Meskipun kampung Jerman sudah hilang secara fisik, sejumlah bangunan lama di sekitar Sarangan diyakini masih menyimpan jejak kolonial, baik peninggalan Jerman maupun Belanda.
Beberapa di antaranya adalah:
• Hotel Sarangan, bangunan bersejarah yang hingga kini mempertahankan arsitektur lama.
• Bekas Rumah Sakit Suster Berta, yang pada masa lalu menjadi pusat pelayanan kesehatan dan kini beralih fungsi menjadi resort dan restoran.
• Reruntuhan dan fondasi bangunan tua yang tersebar di beberapa titik di sekitar telaga.
Waluyo mengungkapkan bahwa banyak bangunan peninggalan kolonial sebenarnya masih dapat dilacak, namun kebanyakan sudah rusak atau dimakan usia karena tidak pernah dipugar.
Meski hanya menyisakan sedikit bukti fisik, keberadaan komunitas Jerman di Sarangan menjadi bagian penting dari sejarah lokal Magetan. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana sebuah daerah pegunungan kecil di Jawa bisa terhubung dengan dinamika global pada masa perang dunia. “Jejak kampung Jerman memang tidak lagi terlihat utuh, tetapi kisahnya sangat penting untuk dikenang. Ini bagian dari sejarah Magetan yang belum banyak diketahui masyarakat,” pungkas Waluyo.(Nan/Krs).