2 Wilayah Mulai Krisis Air, BPBD Madiun Siapkan 30 Tandon Hadapi Kemarau Panjang
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 38
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Musim kemarau mulai menguji ketersediaan air di Kabupaten Madiun. Dua wilayah, yakni Dusun Kedondong, Desa Pilangrejo, dan Kelurahan Wungu, mulai terdampak gangguan pasokan air sehingga BPBD Kabupaten Madiun mengirimkan tandon sebagai cadangan untuk kebutuhan warga.
Musim kemarau diperkirakan masih berlangsung sekitar dua bulan ke depan, sementara hujan belum merata di seluruh wilayah.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Madiun, Endik Rukmana, mengatakan dua wilayah tersebut menjadi lokasi yang sejauh ini melaporkan persoalan air kepada BPBD.
“Ada dua wilayah, Desa Pilangrejo sama Kelurahan Wungu. Kemarin kita kirimkan tandon untuk membantu kekeringan,” kata Endik, Senin (28/9/2026).
Namun, Endik menegaskan kondisi di kedua wilayah belum sampai pada tahap kekeringan parah yang membutuhkan distribusi air bersih secara rutin.
Persoalan utama terjadi akibat gangguan jaringan perpipaan. Kondisi tersebut untuk sementara telah tertangani, sedangkan tandon disiapkan sebagai tempat penyimpanan air apabila sewaktu-waktu pasokan kembali terganggu.
“Kemarin dua tempat itu alirannya, pipanisasinya ada masalah. Cuma untuk sementara saat ini sudah tertangani,” ujarnya.
Di Kelurahan Wungu, dampak gangguan juga masih terbatas. BPBD mencatat hanya beberapa RT dan rumah tangga yang terdampak.
“Belum sampai kering benar, butuh air suplai tidak. Hanya untuk cadangan saja,” kata Endik.
Mengantisipasi kemarau yang belum berakhir, BPBD Madiun menyiapkan sekitar 30 unit tandon air bantuan dari pemerintah provinsi.

Tandon tersebut akan digeser ke wilayah yang mulai mengalami kesulitan air. BPBD juga telah menyiapkan skema distribusi air apabila kondisi kekeringan berkembang menjadi krisis air bersih.
“Kita sudah ada tandon itu dari provinsi sekitar 30 unit tandon air. Nanti kalau ada yang kekeringan kita kirim, kita bantu untuk pendistribusian air, karena kita sudah kerja sama dengan PDAM,” jelas Endik.
BPBD menyebut terdapat 14 titik PDAM yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengambilan air secara gratis untuk mendukung penanganan kekeringan.
Meski demikian, BPBD masih melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah desa serta kelurahan yang memiliki potensi terdampak kekeringan.
Selain ancaman kekurangan air, BPBD juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan selama kemarau.
Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Warga diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta menghemat penggunaan air.
“Semua itu kering, jadi gampang banget terbakar. Kedua, ya hemat-hemat air, karena ini kemarau diperkirakan masih panjang, sekitar dua bulan,” pungkas Endik. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





