BPBD Kota Madiun Droping Air Bersih, 21 KK Terdampak Kekeringan
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun melakukan droping air bersih untuk warga terdampak kekeringan di sejumlah wilayah Kota Madiun, Senin (28/9/2026). Kekeringan terjadi akibat sumur dalam milik warga tidak lagi mengalir selama musim kemarau.
Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak kekeringan. Rinciannya, 14 KK berada di wilayah Kelurahan Kelun dan tujuh KK di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Deddy Purnomo Santoso mengatakan, permintaan bantuan air bersih dari warga mulai masuk sekitar dua pekan sebelumnya. BPBD kemudian menempatkan sejumlah tandon air di titik-titik yang membutuhkan.
“Sekitar dua minggu yang lalu ada permintaan dari masyarakat untuk dropping air bersih di Kelurahan Kelun, di RT 19 dan RT 21,” kata Deddy.
Untuk wilayah Kelun, BPBD menyiapkan tiga tandon yang ditempatkan di dua titik. Sementara di Kelurahan Tawangrejo terdapat dua tandon untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Pengisian tandon dilakukan secara berkala. BPBD mengisi air setiap dua hari sekali secara bergantian dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Madiun.
“Ketika dua hari kami mengirimkan, kemudian PDAM juga setelah itu giliran mengirimkan ke sana,” ujarnya.
Deddy menjelaskan, kekeringan yang dialami warga terutama terjadi karena mereka masih mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Pada saat musim kemarau, penggunaan air tanah untuk kebutuhan pertanian turut meningkat sehingga debit air tanah yang dimanfaatkan warga untuk rumah tangga menurun.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan rutin setiap memasuki musim kemarau.
“Sekitar 14 kepala keluarga yang mengalami kekeringan di sana (Kelun), karena setiap hari mereka menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari. Sementara pada saat kekeringan, ada masyarakat yang memanfaatkan air tanah untuk pengairan pertanian,” jelas Deddy.

Bantuan air bersih disiapkan untuk menjaga kebutuhan dasar warga selama sumber air rumah tangga belum kembali normal.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Madiun mendorong warga yang masih mengandalkan sumur atau air tanah untuk memanfaatkan layanan PDAM. Pemerintah juga memiliki skema bantuan pemasangan akses air bagi warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Lurah Kelun, Pardi mengatakan, suplai air bersih sangat membantu warga yang belum menggunakan layanan PDAM dan masih mengandalkan air bawah tanah.
“Karena musim kemarau, ini kekurangan air. Kami mengajukan permohonan melalui BPBD dan kebutuhan suplai air bersih untuk warga sudah dicukupi,” kata Pardi.
Salah satu titik menjadi lokasi dengan jumlah pengguna cukup banyak karena selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, air juga digunakan untuk menunjang aktivitas warga, termasuk kegiatan produksi tempe.
Pardi menyebut keberadaan suplai air tersebut membuat aktivitas warga dapat tetap berjalan.
“Semua kegiatan sudah berjalan, aktivitas untuk pemulihan ekonomi juga lancar,” ujarnya.
BPBD Kota Madiun memperkirakan potensi kebutuhan pengisian tandon masih berlangsung hingga memasuki awal musim penghujan. Berdasarkan informasi cuaca yang diterima dalam rapat bersama BPBD Provinsi Jawa Timur dan BMKG Juanda, awal musim penghujan diperkirakan pada pertengahan Oktober. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





