Bendungan Gonggang Surut, Dasar Waduk Jadi Daya Tarik Wisata Baru
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 40
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Musim kemarau panjang berdampak pada menyusutnya sejumlah cadangan air di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Salah satunya terjadi di Bendungan Gonggang yang berada di Kecamatan Poncol.
Saat ini, volume air di bendungan tersebut diperkirakan hanya tersisa sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan kondisi ketika waduk terisi penuh. Penyusutan itu membuat sebagian dasar bendungan yang biasanya terendam kini terlihat jelas.
Hamparan bebatuan berukuran besar yang muncul di tengah waduk bahkan memberikan pemandangan berbeda. Kondisi tersebut oleh sejumlah pengunjung disebut menyerupai kawasan pantai, sehingga menarik perhatian warga untuk datang dan menikmati suasana Bendungan Gonggang dari sisi yang berbeda.
Pemandangan dasar waduk yang mengering juga sempat menjadi perbincangan di media sosial setelah salah satu unggahan mengenai kondisi Bendungan Gonggang menarik perhatian dan viral di kalangan warganet.
Surutnya air juga dimanfaatkan para pemancing. Mereka turun hingga ke bagian dasar waduk untuk mencari ikan yang sebelumnya berada di kawasan yang tertutup air ketika volume bendungan masih tinggi.

Salah seorang warga, Hari, mengatakan penyusutan air di Bendungan Gonggang sudah cukup signifikan. Menurutnya, kondisi air saat ini hanya tersisa sekitar 20 hingga 30 persen.
“Airnya menyusut banyak sekali, tinggal paling 20 sampai 30 persen. Orang mancing sekarang sudah sampai ke dasar, yang biasanya berada di atas, sekarang airnya jauh turun ke bawah,” ujar Hari.
Menurut Hari, penyusutan air merupakan kondisi yang biasa terjadi setiap musim kemarau. Bendungan Gonggang memang memiliki fungsi utama untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian, khususnya saat pasokan air berkurang pada musim kemarau.
Meski demikian, kondisi waduk yang surut justru menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat. Sejumlah pengunjung datang bukan sekadar untuk melihat dasar bendungan, tetapi juga berolahraga sekaligus menikmati panorama alam.
Sindi Fatika Sari, salah seorang pengunjung asal Sampung, Ponorogo, mengaku baru pertama kali turun hingga ke bagian dasar Bendungan Gonggang ketika air surut seperti sekarang.
Ia biasanya datang saat kondisi air masih tinggi. Namun, musim kemarau kali ini membuat bagian dasar bendungan dapat dijangkau dan memperlihatkan bebatuan yang selama ini berada di bawah permukaan air.
“Saya baru pertama kali turun ke bawah karena musim kemarau. Kalau musim hujan tidak bisa sampai ke sini karena airnya naik. Di sini bisa foto-foto, melihat dasar waduk, dan ternyata banyak batu-batu. Banyak juga orang yang memancing,” kata Sindi.
Pengunjung lainnya, Eva Ainul Nur Istiqomah dan Nadin Nisrina Salsabila Rahmadhani, memilih datang karena tertarik melihat perubahan pemandangan Bendungan Gonggang ketika air surut.
Menurut mereka, kondisi tersebut membuat dasar waduk terlihat lebih luas dan menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan saat bendungan dipenuhi air. Selain menikmati pemandangan, keduanya juga kerap memanfaatkan kawasan tersebut untuk berolahraga pada sore hari.
“Kalau sedang surut pemandangannya bagus karena bisa melihat dasarnya. Biasanya sore juga untuk olahraga. Enak, pemandangannya ada dan hawanya sejuk,” ujar keduanya.
Bagi masyarakat sekitar, surutnya Bendungan Gonggang menjadi penanda berkurangnya cadangan air pada musim kemarau. Namun bagi pengunjung, kondisi tersebut sekaligus menghadirkan lanskap baru yang sebelumnya tersembunyi di bawah permukaan air.
Dengan munculnya dasar waduk, aktivitas warga pun bergeser. Dari sekadar menikmati panorama bendungan, kini sebagian pengunjung turun ke dasar untuk berfoto, berjalan-jalan, berolahraga, hingga memancing.
Meski menjadi daya tarik tersendiri, penyusutan air tetap menjadi perhatian karena Bendungan Gonggang memiliki fungsi penting untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian. Karena itu, kondisi cadangan air dan pemanfaatannya perlu terus diperhatikan seiring berlangsungnya musim kemarau. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





