Berita Terkini
Trending Tags

Menelusuri Jejak Para Leluhur, Membaca 351 Tahun Sejarah Magetan

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • visibility 43
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Bupati Magetan menziarahi makam Ki Mageti, makan Adipati Yosonegoro dan makam Patih Nrang Kusumo. Foto : Kus-Sinergia.

Sinergia | Magetan – Sejarah Kabupaten Magetan tidak hanya tersimpan dalam dokumen dan catatan pemerintahan. Jejaknya juga melekat pada makam para tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan daerah ini dari masa ke masa.

Tujuh makam leluhur yang menjadi bagian dari sejarah Magetan membawa masyarakat pada perjalanan panjang sejak kisah awal terbentuknya daerah, munculnya pemerintahan kabupaten, hingga keterkaitan Magetan dengan dinamika kekuasaan Jawa dan perjuangan pada masa awal kemerdekaan.

Salah satu jejak paling awal dapat ditemukan pada sosok Ki Ageng Mageti. Dalam riwayat sejarah lokal, Ki Ageng Mageti disebut sebagai salah satu tokoh yang berkaitan dengan pembukaan wilayah yang kemudian berkembang menjadi Magetan. Namanya bahkan menjadi bagian dari narasi mengenai asal-usul nama daerah ini.

Dari kisah tersebut, perjalanan sejarah bergerak memasuki fase pemerintahan. Adipati Yosonegoro, yang dikenal sebagai bupati pertama Magetan, menjadi salah satu figur penting dalam babak awal terbentuknya pemerintahan kabupaten.

Nama aslinya disebut Basah Bibit Gondokusumo sebelum kemudian bergelar Adipati Yosonegoro. Makamnya di Tambran menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah pemerintahan Magetan.

Fase awal tersebut kemudian berlanjut pada masa Ronggo Galih, yang dikenal sebagai bupati kedua Magetan. Dua tokoh ini menunjukkan bagaimana kisah para leluhur tidak hanya berbicara mengenai asal-usul daerah, tetapi juga tentang terbentuknya sistem pemerintahan yang kemudian berkembang hingga sekarang.

Sejarah Magetan juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan kekuasaan Jawa. Hal itu tercermin dari sosok Nrang Kusumo, yang dalam riwayat lokal disebut sebagai patih Sultan Amangkurat I dan memiliki hubungan dengan lingkungan kekuasaan Mataram.

Jejak lainnya terlihat pada Gusti Putri Maduretno dan Raden Ronggo Prawirodirdjo III. Keduanya dimakamkan di kompleks makam Maduretno, Giripurno, dan menjadi bagian dari sejarah keluarga bangsawan serta kekuasaan lokal di kawasan Magetan.

Sementara itu, Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat, yang dikenal sebagai bupati Magetan keenam, memperlihatkan semakin panjangnya mata rantai pemerintahan daerah. Kompleks makamnya di Pacalan, Plaosan, juga menyimpan jejak tokoh lain, termasuk Ki Ageng Kembang Sore.

Di Kepolorejo, kompleks Sasono Mulyo menyimpan jejak sejumlah penguasa Magetan masa lalu, termasuk Raden Mas Aryo Kertonegoro dan beberapa bupati lainnya.

Salah satu nama yang memberikan dimensi lebih luas terhadap sejarah tersebut adalah R.M.T. Suryo. Ia merupakan salah satu tokoh yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Magetan dan kemudian tercatat sebagai Gubernur Jawa Timur pertama setelah Indonesia merdeka.

Rangkaian nama tersebut menunjukkan bahwa sejarah Magetan tidak terbentuk dalam satu periode maupun oleh satu tokoh. Ia merupakan hasil perjalanan panjang yang mempertemukan kisah pembukaan wilayah, pemerintahan, keluarga bangsawan, dinamika kekuasaan Jawa hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Karena itu, mengenang para leluhur bukan semata-mata melihat masa lalu. Ada nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti mengatakan, para tokoh tersebut perlu dihormati sekaligus diteladani karena memiliki jasa dalam perjalanan Kabupaten Magetan.

“Tujuh makam leluhur itu harus kita hormati, kita teladani perjuangannya, khususnya untuk memperjuangkan Kabupaten Magetan. Jadi kita sebagai penerus harus menghormati jasa-jasa beliau itu dan meneladani suri teladan dari beliau,” ujar Nanik.

Menurut Nanik, keteladanan tersebut tidak berhenti pada penghormatan terhadap sejarah, tetapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu menempatkan sejarah bukan sekadar cerita tentang tokoh masa lalu. Bagi Magetan yang kini memasuki usia 351 tahun, sejarah menjadi cermin untuk melihat bagaimana daerah ini dibangun, nilai apa yang diwariskan, dan tanggung jawab apa yang harus diteruskan oleh generasi sekarang.

Tujuh makam tersebut pada akhirnya bukan sekadar tempat peristirahatan para leluhur. Ia menjadi penanda perjalanan panjang Magetan—dari sebuah wilayah yang dibangun oleh para pendahulu, berkembang menjadi pemerintahan, melewati berbagai perubahan zaman, hingga menjadi kabupaten yang terus bergerak menuju masa depan.

Membaca kembali jejak para leluhur berarti membaca kembali 351 tahun perjalanan Magetan, bukan untuk berhenti pada masa lalu, melainkan untuk memahami akar sejarah dan menjadikannya pijakan dalam membangun Magetan berikutnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Krs/Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jalur Madiun–Ponorogo Via Kandangan Kerap Terjadi Longsor, Warga Kare Dihimbau Waspada

    Jalur Madiun–Ponorogo Via Kandangan Kerap Terjadi Longsor, Warga Kare Dihimbau Waspada

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, selama sepekan terakhir memicu terjadinya sejumlah titik longsor di kawasan Dusun Kandangan, Desa Kare. Sedikitnya tujuh lokasi di sepanjang jalan alternatif Madiun–Ponorogo terdampak longsoran tanah dengan intensitas berbeda. Sebagian material longsor telah dibersihkan warga melalui kerja bakti, namun satu titik longsor […]

    Bagikan
  • Dianggap Rusak Pemandangan, Puluhan Lapak PKL Liar di Ponorogo Dibongkar 

    Dianggap Rusak Pemandangan, Puluhan Lapak PKL Liar di Ponorogo Dibongkar 

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Puluhan lapak pedagang kaki lima (PKL) liar di sejumlah ruas jalan protokol dan kawasan kota Ponorogo, Jawa Timur, dibongkar paksa oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Penertiban dilakukan karena lapak-lapak tersebut dinilai melanggar ketertiban umum serta merusak keindahan tata kota. Pembongkaran dilakukan oleh petugas gabungan dari Satpol PP bersama […]

    Bagikan
  • Resahkan Warga, Polisi Amankan 200 Selongsong Petasan dari Rumah Warga di Jenangan

    Resahkan Warga, Polisi Amankan 200 Selongsong Petasan dari Rumah Warga di Jenangan

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Aparat kepolisian mengamankan ratusan selongsong petasan dari sebuah rumah warga di Kelurahan Singosaren, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Senin (16/3/2026). Penemuan tersebut bermula dari laporan masyarakat yang mengaku resah dan merasa tidak nyaman dengan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar. Informasi dari warga itu kemudian ditindaklanjuti petugas dengan melakukan patroli dan pengecekan langsung […]

    Bagikan
  • Embung Mengering, Warga Berbondong-bondong Berebut Ikan

    Embung Mengering, Warga Berbondong-bondong Berebut Ikan

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan — Musim kemarau panjang membuat Embung Titang Krajan, yang oleh warga setempat lebih dikenal sebagai Embung Duwet Sewu, mengering. Kondisi tersebut justru dimanfaatkan warga sekitar untuk menangkap ikan yang selama ini hidup di embung. Sejak air embung menyusut hingga menyisakan genangan air dan lumpur, warga berdatangan membawa berbagai peralatan sederhana untuk menangkap […]

    Bagikan
  • Polisi Ungkap Tabrak Lari di Magetan, Pelaku Diamankan Kurang dari 12 Jam

    Polisi Ungkap Tabrak Lari di Magetan, Pelaku Diamankan Kurang dari 12 Jam

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Magetan – Kecelakaan tabrak lari yang menewaskan satu pejalan kaki di Desa Sumberagung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, pada Rabu (18/6/2025) pukul 04.45 WIB berhasil diungkap kurang dari 12 jam oleh Satlantas Polres Magetan. Korban atas nama GN (73), warga Dusun Genggong, Desa Randugede meninggal dunia dalam peristiwa itu. Sementara SYN (65), warga […]

    Bagikan
  • Aset Mangkrak Senilai Rp 8 Miliar, Kebocoran PAD Kabupaten Madiun Disorot

    Aset Mangkrak Senilai Rp 8 Miliar, Kebocoran PAD Kabupaten Madiun Disorot

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 386
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Madiun kian menjadi sorotan. Sejumlah aset milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) yang terbengkalai tak hanya kehilangan potensi pemasukan, tetapi juga berisiko menambah beban pemeliharaan tanpa kontribusi nyata bagi kas daerah. Data dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Madiun mencatat, setidaknya ada enam aset […]

    Bagikan
expand_less