Bendungan Kedungrejo Ambrol, 1.400 Hektar Sawah di Madiun Terancam Kekeringan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- visibility 144
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Bendungan Kedungrejo di Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, mengalami kerusakan parah setelah bangunan pengendali aliran air tersebut ambrol pada Jumat (27/3/2026). Kondisi diperparah dengan longsornya tebing di sekitar bendungan pada Selasa (31/3/2026) dini hari.
Kerusakan ini menyebabkan aliran air irigasi dari Sungai Jeroan terhenti, sehingga ribuan hektare lahan pertanian di dua kecamatan terancam kekeringan.
Salah satu warga Desa Kedungrejo, Santo, mengatakan bendungan tersebut merupakan sumber utama pengairan bagi sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Pilangkenceng dan Balerejo.
“Pengaliran otomatis berhenti, tidak bisa mengaliri lahan pertanian, sehingga terancam kekeringan,” ujar Santo, Selasa (31/3/2026).
Ia memperkirakan kerusakan pada tebing terjadi sekitar tengah malam. Sebab, pada sore hari sebelumnya bendungan masih dapat dilalui warga. Menurutnya, hujan deras terjadi di wilayah hulu, sementara di lokasi bendungan tidak terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Santo menjelaskan, air dari bendungan tersebut biasanya dialirkan ke beberapa desa, di antaranya Kuwu, Babadan, Waru, hingga Balerejo. Total luas lahan yang bergantung pada irigasi bendungan ini diperkirakan mencapai sekitar 1.436 hektar.
Selain berdampak pada sektor pertanian, warga juga mengkhawatirkan potensi bahaya bagi permukiman di sekitar bendungan. Pasalnya, aliran air dari hulu masih terus mengikis tebing yang berada di sekitar bangunan yang telah rusak.
“Kami khawatir kalau tidak segera ditindaklanjuti bisa merambat ke rumah warga, karena air dari hulu terus mengalir mengikis tebing-tebing,” imbuhnya.
Sementara itu, Pengamat Operasi Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (UPT PSDA WS) Bengawan Solo Perwakilan Madiun, Andika Widodo, mengatakan pihaknya telah melaporkan kerusakan bendungan kepada Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU PSDA) Provinsi Jawa Timur.
“Kemungkinan besok dari provinsi akan turun ke lokasi untuk menindaklanjuti kerusakan tersebut,” ujar Andika.
Sebagai langkah awal, pihaknya akan melakukan penanganan darurat dengan membuat tanggul sementara untuk mencegah kerusakan semakin meluas, terutama di tengah intensitas hujan yang masih tinggi.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat ke area bendungan demi menghindari risiko kecelakaan.
“Kami mengimbau warga tidak mendekat ke bendungan supaya tidak menimbulkan korban jiwa,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez






