
Sinergia | Kab. Madiun – Di bawah langit Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, semangat Madiun Kampung Pesilat bukan sekadar slogan yang terpajang di spanduk atau baliho. Di tangan para guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK), semangat itu menjelma jadi gerakan nyata yakni mencetak bibit pesilat sejak bangku sekolah dasar.
Melalui program fasilitasi pencak silat seni yang digagas Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Kecamatan Sawahan, para siswa diberi kesempatan mengenal dan berlatih pencak silat secara terarah. Program ini melibatkan guru PJOK, kepala sekolah, serta sanggar pencak silat yang tersebar di wilayah kecamatan.
“Fasilitasi sudah dimulai sejak Januari 2025. Siswa yang menunjukkan minat dan potensi direkomendasikan sekolah untuk berlatih di sanggar terdekat,” ujar Ika Purmeitasari, Ketua KKG PJOK Kecamatan Sawahan.
Menurut Ika, program tersebut telah membuahkan hasil. Sejumlah siswa dari Sawahan berhasil mewakili kecamatan dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat kabupaten dan beberapa lomba daerah. Antusiasme siswa juga meningkat dan semakin banyak yang bergabung ke sanggar untuk berlatih rutin.
Beberapa sekolah bahkan mengintegrasikan pencak silat ke dalam kegiatan ekstrakurikuler. “Kami ingin menciptakan iklim kompetitif yang sehat bagi murid, sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap warisan budaya lokal,” kata Ika.
Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari para kepala sekolah yang tergabung dalam KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) Kecamatan Sawahan. Menurut Rudy Dwi Sunaryanto, Ketua KKKS, seluruh kepala sekolah di wilayahnya sepakat menjadikan pencak silat sebagai bagian penting dari pembelajaran karakter. “Seluruh kepala sekolah mendukung kegiatan fasilitasi pencak silat seni ini,” ujar Rudy.
Ia menjelaskan, dukungan tersebut juga berakar pada kebijakan daerah. Pemerintah Kabupaten Madiun telah menginsersi pencak silat ke dalam mata pelajaran PJOK, kebijakan yang disahkan langsung oleh Bupati Madiun pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025.
“Bagi guru PJOK yang dulu hanya belajar pencak silat saat kuliah, program ini menjadi sarana untuk mengingat kembali sekaligus mempelajari perkembangan baru dalam dunia pencak silat,” tambah Rudy.
Lebih dari sekadar olahraga, pencak silat di Sawahan dipandang sebagai medium pendidikan karakter. Melalui latihan rutin, siswa belajar disiplin, tekun, dan bertanggung jawab. Sementara saat bertanding, mereka dilatih untuk berani, percaya diri, dan mampu mengendalikan diri di bawah tekanan.
“Nilai-nilai yang diajarkan dalam pencak silat sangat relevan dengan pembentukan karakter anak,” kata Ika. “Mulai dari sikap hormat kepada guru, kerja sama antar teman, hingga rasa cinta tanah air.”
Selain itu, pencak silat juga mengajarkan nilai religiusitas dan kebersamaan sebagai pondasi penting bagi tumbuhnya generasi yang tangguh dan beretika. Program fasilitasi ini menjadi jembatan antara sekolah dan komunitas pencak silat di tingkat akar rumput. Di setiap sanggar, para pelatih membantu guru dalam memberikan pelatihan teknik dasar hingga seni gerak.
Dengan cara ini, pencak silat bukan hanya bagian dari kegiatan olahraga sekolah, melainkan juga ruang untuk membangun karakter dan identitas budaya pelajar Madiun. Bagi Kecamatan Sawahan, upaya ini bukan sekadar mencari juara. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana warisan budaya pesilat bisa terus hidup, diteruskan oleh generasi muda yang belajar tidak hanya untuk menang, tetapi juga untuk menjadi manusia yang beradab.
Tova Pradana – Sinergia