Krisis Air Bersih di Madiun Meluas, 8 Desa di 4 Kecamatan Terdampak Kekeringan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 303
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Krisis air bersih akibat kemarau panjang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terus meluas. Sebanyak delapan desa di empat kecamatan tercatat terdampak kekurangan air bersih. Warga kini mengandalkan bantuan distribusi air dari pemerintah daerah bersama TNI AD untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terlihat di Desa Cabean, Kecamatan Sawahan, Kamis (15/10/2026) pagi. Bantuan air bersih yang disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun bersama Yonif TP 532 Pangeran Timur langsung disambut warga yang membutuhkan pasokan air.
Dalam distribusi kali ini, sebanyak 30 ribu liter air bersih disalurkan ke tiga desa terdampak. Masing-masing desa menerima 10 ribu liter air, yakni Desa Cabean dan Desa Sawahan di Kecamatan Sawahan serta Desa Plumpungrejo di Kecamatan Wonoasri.
Pasintel Yonif TP 532 Pangeran Timur, Lettu Jamil, mengatakan pihaknya mengerahkan enam unit tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga di tiga desa tersebut.
“Kami hari ini menerjunkan enam tangki berkapasitas 5.000 liter di tiga desa dengan masing-masing desa dua tangki,” ujar Jamil di lokasi penyaluran.
Ia menjelaskan, penyaluran bantuan dilakukan melalui koordinasi dengan BPBD dan PDAM setempat. Sebelum mengirimkan air, petugas terlebih dahulu mengecek kondisi lapangan untuk memastikan wilayah yang diusulkan memang membutuhkan bantuan.

Hasil pengecekan menunjukkan sejumlah desa mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau panjang sehingga membutuhkan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Sebelumnya kami melakukan pengecekan dan ternyata benar desa-desa ini mengalami kekeringan dampak kemarau panjang dan membutuhkan dropping air bersih sehingga hari ini kami kirim,” jelasnya.
Sementara itu, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Madiun, Endik Rukmana, mengatakan wilayah terdampak kekurangan air bersih terus bertambah. Laporan terbaru yang diterima BPBD mencakup dua desa di Kecamatan Wonoasri, yakni Plumpungrejo dan Ngadirejo.
BPBD juga menerima informasi awal mengenai potensi kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Saradan. Namun, laporan tersebut belum masuk secara resmi sehingga masih perlu dilakukan pengecekan di lapangan.
“Untuk yang Wonoasri ini dua desa, Plumpungrejo dan Ngadirejo. Ada kemarin informasi di Saradan, tapi belum ada laporan masuk ke kami dan masih akan dilakukan pengecekan,” terang Endik.
Meluasnya wilayah terdampak turut meningkatkan kebutuhan sarana penampungan air bersih. Dari total 30 tandon yang dimiliki BPBD Kabupaten Madiun, sekitar 80 persen telah digunakan dan didistribusikan untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Endik mengimbau pemerintah desa segera melaporkan apabila mulai ditemukan warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Laporan tersebut akan ditindaklanjuti dengan pengecekan untuk memastikan kebutuhan bantuan di lapangan. “Harapannya ini tidak semakin meluas. Namun, jika memang ada warga yang mulai mengalami kekurangan air, bisa dari desa melapor ke kami. Nanti akan kami cek dan jika benar membutuhkan dropping air bersih, akan kami kirim bantuan secepatnya,” pungkasnya.(Tov).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/byg





