
Sinergia | Kab. Madiun – Sejumlah petani di Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mengeluhkan lambatnya penyerapan hasil panen tomat oleh pemerintah daerah. Akibatnya, sebagian hasil panen terancam tidak terserap dan berpotensi terbuang.
Padahal, pada Jumat (26/09/2025) lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah menginstruksikan Pemkab Madiun segera membeli tomat hasil panen petani dengan harga di atas pasar. Instruksi itu disampaikan saat kunjungan bersama Wakil Bupati Madiun dan jajaran OPD.
Salah satu petani, Rasyid Khoiri, mengaku menanam 3 ribu batang tomat dengan estimasi panen 6–7 ton. Hingga Jumat (03/10/2025), hasil panen yang berhasil diserap baru sekitar 3 ton.
“Masih ada 2–3 ton tomat matang di lahan. Karena harga pasar hanya Rp2 ribu per kilo, kami biarkan dulu. Kalau tidak segera diambil pemerintah, ya mubazir,” kata Rasyid.
Harga jual tomat saat ini berada di kisaran Rp2.000/kg, jauh di bawah harga ideal Rp5.000–Rp6.000/kg. Meski beberapa instansi Pemkab Madiun sudah melakukan pembelian, petani menilai jumlahnya masih minim.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop UM ) Kabupaten Madiun, Indra Setyawan, menyebut pihaknya baru memfasilitasi penyerapan sekitar 2,2 ton sejak Kamis (02/10/2025). Harga yang dibayarkan sebesar Rp4.000/kg sesuai arahan Gubernur.
“Serapan tidak hanya melalui Disperdagkop, tetapi juga dikoordinasikan dengan OPD lain seperti Dinas Pertanian dan DKPP. Kami sudah komunikasikan dengan calon pembeli untuk memperluas penyerapan,” ujarnya.
Pemerintah daerah berjanji akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar hasil panen tomat petani tidak terbuang. Namun hingga kini, ribuan kilogram tomat di lahan masih menunggu giliran untuk dipanen maupun dibeli.
Tova Pradana – Sinergia