Sasaran Skrining TBC Kota Madiun Tahun 2026 Naik Jadi 1.312 Orang, Target 97 Persen Tercapai
- account_circle Mandor
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 63
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Gerakan Pengentasan Tuberkulosis atau Gentas TBC di Kota Madiun nampaknya memenuhi target. Dengan strategi jemput bola melalui CKG, dukungan rumah sakit, dan pendampingan kader, target skrining 1.312 orang di tahun 2026 dapat tercapai dan angka kesembuhan TBC meningkat.
Seperti yang dilakukan di Kelurahan Taman, warga yang mengikuti cek kesehatan gratis ( CKG ) sekaligus mendapatkan skrining TBC. Langkah ini dinilai efektif untuk menjaring warga yang berisiko tanpa harus menunggu munculnya gejala.
Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, menegaskan Gentas TBC perlu dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Tidak bisa hanya insidentil.
Menurutnya, integrasi dengan CKG diharapkan dapat memperluas jangkauan pemeriksaan. Terutama bagi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC yang selama ini luput dari deteksi.
Berdasarkan data skrining dari pemerintah pusat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sasaran pemeriksaan TBC di Kota Madiun pada tahun 2026 mengalami peningkatan signifikan.
Pada tahun 2026 diperkirakan sasaran skrining mencapai 1.312 orang. Angka ini naik dibandingkan tahun 2025 yang sebanyak 1.120 orang.
Kenaikan sasaran ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat dalam upaya eliminasi TBC secara nasional. Kota Madiun menjadi salah satu daerah yang didorong untuk mencapai target tersebut.

Menanggapi data tersebut, Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menargetkan capaian skrining bisa maksimal.
“Kalau kemarin 96 persen dari 1.120, ini perkiraannya 1.312. Targetnya setidaknya yang di-screening kurang lebih 97 persen,” ujarnya.
Selain skrining, upaya penanggulangan TBC juga dilakukan melalui dukungan layanan kesehatan yang lebih komprehensif. Salah satunya adalah pemeriksaan rontgen yang dibantu oleh rumah sakit.
Pemeriksaan rontgen ini penting untuk memastikan diagnosa TBC secara lebih akurat, terutama bagi terduga TBC yang hasil skrining awalnya menunjukkan gejala.
Tak kalah penting, pendampingan terhadap pasien juga menjadi perhatian serius. Pasien TBC membutuhkan dukungan agar pemeriksaan dan pengobatan berjalan optimal hingga tuntas.
Tanpa pendampingan, risiko pasien putus obat cukup tinggi. Padahal pengobatan TBC harus dijalani minimal 6 bulan secara rutin. (Ndor)
- Penulis: Mandor
- Editor: Ndor/Diez





