
Sinergia | Kab. Madiun – Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menggelar upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek, Kecamatan Wungu, Rabu (01/10/2025). Monumen yang berada di lereng Gunung Wilis itu merupakan lokasi pembantaian para tokoh masyarakat, kiai, serta anggota TNI-Polri pada tragedi Madiun 1948.
Dalam upacara tersebut, Bupati Madiun Hari Wuryanto menegaskan pentingnya meluruskan stigma sejarah. Ia menekankan bahwa Madiun bukanlah sarang Partai Komunis Indonesia (PKI), melainkan daerah yang justru menjadi korban dari pemberontakan yang dipimpin Muso.
“Madiun adalah korban, bukan cikal bakal PKI. Peristiwa 18 September 1948 harus dipahami sebagai tragedi pemberontakan yang menelan banyak korban jiwa,” ujar Hari Wuryanto.
Tragedi Madiun 1948 berlangsung selama kurang lebih 18 hari, ketika kelompok PKI di bawah pimpinan Muso menguasai wilayah Madiun. Saat pasukan Siliwangi mulai mendesak, Muso dan pengikutnya menculik sedikitnya 17 tokoh masyarakat, termasuk ulama, wartawan, serta anggota TNI-Polri.
Para sandera kemudian dibawa ke sebuah rumah tua di lereng Gunung Wilis. Mereka dibunuh secara kejam, lalu jasadnya dimasukkan ke dalam sumur tua. Dari tragedi itu, lokasi pembantaian akhirnya dijadikan Monumen Kresek sebagai pengingat generasi penerus bangsa tentang pentingnya mempertahankan Pancasila dan NKRI.
Pembangunan Monumen Kresek bertujuan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak melupakan sejarah kelam pemberontakan PKI. Monumen ini juga menjadi simbol perjuangan rakyat dan aparat keamanan dalam menjaga kedaulatan negara serta ideologi Pancasila.
“Peristiwa di Madiun harus menjadi pelajaran sejarah. Generasi muda perlu memahami bahwa Pancasila terbukti menjadi benteng ideologi yang mampu menyatukan bangsa,” lanjut Bupati Hari.
Muso sendiri akhirnya melarikan diri ke Ponorogo usai tragedi tersebut, sebelum akhirnya tertangkap oleh pasukan pemerintah.
Tova Pradana – Sinergia