
Sinergia | Ponorogo – Pergerakan tanah di Desa Bareng, Kecamatan Pudak, Ponorogo, Jawa Timur, memutus total akses jalan alternatif yang menjadi penghubung antar Kecamatan Pudak dan Sooko. Fenomena geologi ini juga menimbulkan retakan besar yang kini mengancam dua rumah warga yang berada di kawasan terdampak.
Tanah gerak tersebut telah terpantau dan tanda-tandanya bahkan sudah mulai muncul sekitar dua minggu sebelumnya. Patahan tanah berukuran besar terbentuk dengan kedalaman kurang lebih 2 meter dan memanjang hingga 40 meter. Dampaknya merusak area perkebunan milik warga dan memutus jalur strategis penghubung kecamatan.
Rumah yang sangat dekat dengan garis retakan, yakni milik pasutri Sarmin (60) dan Katijem (55) yang berjarak 5 meter dari retakan. Kini berada dalam ancaman kerusakan lanjutan. Mereka memilih tetap bertahan meski telah mendapatkan imbauan untuk mengungsi sementara.
“Berat sekali kalau harus pindah. Ini sudah rumah dari lama,”Katijem, pemilik rumah terdampak.
Kepala Desa Bareng, Yahudi, membenarkan adanya pergerakan tanah yang terus diamati oleh BPBD Jawa Timur dan aparat desa. Ia mengaku telah mengimbau warga yang paling dekat dengan retakan untuk mengosongkan rumahnya demi keamanan.
“Kami bersama BPBD Ponorogo dan BPBD Jatim sudah melakukan pemantauan. Dua rumah terdekat sudah kami minta dikosongkan sementara,” ujarnya.
Terputusnya akses jalan alternatif tersebut berdampak langsung pada mobilitas warga. Sebagian masyarakat kini terpaksa memutar perjalanan hingga puluhan kilometer untuk menuju pusat Kecamatan Pudak maupun kecamatan sooko. Hal itu memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi dan layanan darurat jika pergerakan tanah masih berlanjut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur masih melakukan pemantauan berkala terhadap pergerakan tanah dan kemungkinan retakan susulan. Pemerintah desa juga telah menyiapkan rencana antisipatif untuk perlindungan permukiman dan pembukaan kembali akses bila memungkinkan. (Ega/Krs).