Jambore Pariwisata 2026 di Klangon Madiun, Dorong Wisata Minat Khusus Berbasis Masyarakat
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 270
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Pengembangan pariwisata minat khusus di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, didorong agar tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Upaya tersebut mengemuka dalam Jambore Pariwisata Minat Khusus 2026 yang digelar di Rintisan Desa Wisata Klangon, Kecamatan Saradan, pada 14–15 Oktober 2026.
Kegiatan selama dua hari itu diikuti 50 peserta dari berbagai unsur industri pariwisata, mulai dari pengelola pendakian Gunung Pandan dan Gunung Wilis, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pengelola homestay, pelaku wellness tourism, hingga komunitas paralayang dan usaha kuliner lokal.
Jambore tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memetakan potensi, mengidentifikasi kendala, serta menyusun langkah konkret pengembangan pariwisata minat khusus yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT).
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati, mengatakan tren pariwisata mulai bergeser dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih autentik.
Wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga aktivitas dan pengalaman yang memberikan kesan mendalam.
“Pariwisata tidak melulu tentang sarana dan prasarana. Pariwisata yang baik adalah yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Puji Jumat ( 16/10/2026).

Menurut dia, Kabupaten Madiun perlu memperkuat pengembangan produk wisata minat khusus, seperti sport tourism dan wellness tourism, dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Konsep tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan, terutama di kawasan Selingkar Wilis, karena dapat mengoptimalkan potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Selain paralayang, Kabupaten Madiun memiliki potensi wisata pendakian Gunung Pandan dan Gunung Wilis. Desa Klangon juga berpeluang mengembangkan wisata edukasi tanaman porang yang menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat.
“Tentunya, potensi atraksi inu perlu diimbangi dengan peningkatan fasilitas, akomodasi, serta kualitas pelayanan wisata. Jadi Desa Klangon yang memiliki sekitar 20 homestay masih membutuhkan penguatan standar layanan dan kesiapan sumber daya manusia,” jelasnya.
Dalam jambore tersebut, peserta membahas empat aspek pengembangan pariwisata, yakni atraksi, amenitas, akomodasi, dan hospitality. Keempat aspek itu menjadi dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan destinasi sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.

Selama kegiatan, komitmen terhadap kelestarian lingkungan melalui konsep zero plastic diterapkan. Peserta diwajibkan membawa tumbler dan gelas pribadi, sementara penyajian makanan dan minuman dilakukan tanpa plastik sekali pakai.
“Jadi lewat kegiatan ini, pengembangan pariwisata di Kabupaten Madiun diharapkan semakin mengedepankan kolaborasi antarpelaku, peningkatan kualitas layanan, serta perlindungan lingkungan,” tutur Puji.
Dengan begitu, potensi wisata alam dan aktivitas minat khusus di Klangon dan kawasan sekitarnya dapat berkembang menjadi daya tarik yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.(tov).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Byg





