
Sinergia | Kab. Magetan – Di tengah maraknya pemberitaan tentang dugaan peredaran beras oplosan di sejumlah daerah, pengusaha penggilingan gabah di Kelurahan Tawanganom, Kecamatan Magetan, Jawa Timur, mengaku bisnisnya justru tetap lancar bahkan mengalami peningkatan.
Sumining, pemilik selepan yang telah beroperasi sejak 1984, mengatakan bahwa isu beras oplosan tidak berdampak negatif terhadap usahanya. “Alhamdulillah beras saya lancar, pembeli juga naik. Saya hanya mendengar saja seperti apa wujud beras oplosan itu, tapi di sini tetap mempertahankan kualitas,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya.
Menurut Sumining, ia menyediakan berbagai jenis beras seperti 64, Mapan, Morang, Serang, 32, 70, dan Bramo. Varietas Bramo menjadi primadona karena teksturnya pulen, wangi, dan cocok untuk rumah makan. “Beras Bramo itu yang paling disukai, pembeli justru bertambah akhir-akhir ini,” jelasnya.
Sebelum isu beras oplosan mencuat, produksi selepan miliknya rata-rata 5–6 kuintal beras per hari. Kini, jumlah itu naik menjadi sekitar 7 kuintal. Kenaikan ini didorong oleh pasokan gabah yang lancar dari para petani lokal. Harga beras di tempatnya berkisar Rp13.200 per kilogram untuk jenis 64, Rp13.800 untuk Bramo, dan Rp14.000 untuk jenis wangi.
Tidak hanya penjual, konsumen pun mengaku tetap percaya dengan kualitas beras dari selepan tersebut. Meisita, warga setempat, mengatakan awalnya sempat khawatir dengan isu beras oplosan, namun rasa dan kualitas beras di sini membuatnya yakin.
“Kemarin coba beli 10 kilo, hasilnya enak dan pulen. Sekarang saya ambil 1 kuintal. Di sini berasnya dipisah-pisah sesuai jenisnya, jadi jelas,” tuturnya.
Meisita juga menyebut harga yang ditawarkan relatif terjangkau dan proses penggilingan dilakukan secara terpisah untuk setiap jenis beras, sesuai permintaan pembeli. “Itu yang bikin saya percaya, karena jelas asal dan jenis berasnya,” tambahnya.
Isu beras oplosan belakangan menjadi perhatian publik setelah aparat mengungkap praktik pencampuran beras berkualitas rendah dengan bahan non-pangan atau dicampur antarjenis untuk meningkatkan keuntungan. Meski demikian, sejumlah pelaku usaha seperti Sumining membuktikan bahwa menjaga kualitas dan transparansi dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Kusnanto – Sinergia