
Sinergia | Kab. Madiun – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun menjadikan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan yang akan ditawarkan kepada calon investor. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan daerah dan memperluas penyerapan tenaga kerja lokal.
Sesuai data pada tahun 2024, luas areal kakao di Kabupaten Madiun mencapai 4.407 hektar. Sedangkan untuk produksi kakao tercatat 1.001,75 ton. Untuk itu, prospek kakao di Kabupaten Madiun ini sangat menjanjikan kedepannya.
Bupati Madiun Hari Wuryanto menyampaikan komitmen itu dalam rapat koordinasi penanaman modal, Rabu (20/08/2025). Menurutnya, pengembangan industri berbasis kakao membutuhkan dukungan investasi besar, khususnya di bidang teknologi pengolahan hasil panen.
“Selama ini kakao belum punya nilai tambah yang signifikan. Dengan investasi yang tepat, kita bisa mengolahnya menjadi produk hilir bernilai tinggi dan membuka lapangan kerja baru,” ujar Hari.
Pemkab Madiun menilai hilirisasi kakao sejalan dengan program nasional Asta Cita yang mendorong modernisasi rantai pasok dan peningkatan daya saing komoditas pertanian. Hal tersebut dinilai mampu menciptakan iklim usaha kondusif melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif, dan dukungan penuh kepada pelaku usaha.
Kabupaten Madiun memiliki lahan pertanian subur dengan beragam komoditas unggulan seperti padi, porang, kopi, dan kakao. Namun, kakao dinilai memiliki prospek jangka panjang sebagai bahan baku industri makanan dan minuman bernilai ekspor.
“Kita ingin menangkap peluang ini. Semua pemangku wilayah, dari desa, kecamatan, hingga organisasi perangkat daerah, harus bersinergi untuk mendukung investor masuk,” kata Hari.
Sepanjang semester I 2025, realisasi investasi di Kabupaten Madiun mencapai Rp1,25 triliun atau 50 persen dari target Rp2,5 triliun.
Tova Pradana – Sinergia