Bulog Jatim Klaim Tertinggi Nasional, Stok Aman hingga 14 Bulan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur mencatatkan kinerja signifikan dalam penyerapan gabah petani. Hingga awal April 2026, serapan gabah di wilayah ini disebut menjadi yang tertinggi secara nasional.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan total serapan gabah dan beras telah mendekati 400 ribu ton. Angka tersebut mendekati 50 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
“Penyerapan di Jawa Timur untuk gabah dan beras saat ini tertinggi se-Indonesia. Per tadi malam sudah 387.000 ton, sebentar lagi kita capai 50 persen dari target,” ujar Langgeng, Kamis (2/4/2026).
Langgeng menjelaskan, tingginya serapan ini turut berdampak positif bagi petani. Bulog membeli gabah kering panen (GKP) dengan harga Rp6.500 per kilogram langsung di tingkat petani.
Menurutnya, harga tersebut cukup menguntungkan dan mendorong semangat petani untuk terus meningkatkan produksi.
“Petani sangat terbantu karena harga GKP yang kita beli Rp6.500 per kilogram di pinggir sawah. Ini sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani,” katanya.
Selain itu, Bulog Jatim memastikan ketersediaan stok beras dalam kondisi aman. Saat ini, total stok yang dikuasai mencapai 1.093.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 14 bulan ke depan.
“Masyarakat tidak perlu panik. Stok kita sangat cukup, gudang-gudang juga penuh, dan setiap hari kita masih melakukan penyerapan,” tambahnya.
Tingginya capaian serapan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari TNI, Babinsa, Bhabinkamtibmas, penyuluh pertanian lapangan (PPL), hingga dinas pertanian daerah. Faktor cuaca yang mendukung juga menjadi pendorong meningkatnya produksi gabah.
Di sisi lain, Bulog Jatim juga mencatat serapan jagung yang cukup tinggi. Hingga saat ini, realisasi penyerapan jagung telah mencapai 56.000 ton dari target 100.000 ton, atau lebih dari 50 persen.
Langgeng optimistis seluruh target yang diberikan pemerintah dapat tercapai, terlebih dengan dukungan lintas sektor yang terus berjalan.
Ia juga menyinggung capaian nasional pada 2025 yang tidak melakukan impor beras sama sekali. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan.
“Stok kita sekarang termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Ini hasil kerja bersama dan diharapkan bisa terus berlanjut,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez






