Menikmati Sajian Aneka Kue dari Ubi Ungu, Kini Diburu Pecinta Kuliner
- account_circle Ega Patria
- calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
- visibility 278
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Kreativitas mengolah bahan pangan lokal membawa berkah bagi Emi Atikah, seorang ibu rumah tangga asal Jalan Parang Ukel, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Berawal dari melimpahnya ubi ungu di lingkungan sekitar dengan harga yang relatif murah, Emi berhasil menyulapnya menjadi aneka kue bernilai jual tinggi dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Ubi ungu yang selama ini identik dengan olahan sederhana seperti direbus atau digoreng, di tangan Emi diolah menjadi berbagai jenis kue dengan tampilan menarik dan cita rasa khas. Beragam produk yang dihasilkan antara lain donat, kue lumpur, nona manis, pie ubi, hingga puding berbahan dasar ubi ungu.
Dalam proses produksinya, Emi menggunakan ubi ungu segar yang dibeli langsung dari petani lokal. Ubi tersebut dikupas, dipotong kecil-kecil, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan getah. Setelah bersih, ubi dikukus hingga matang sebelum dihaluskan dan dicampur dengan berbagai bahan lain untuk dijadikan adonan kue.
“Karena ubi ungu di sini sangat melimpah dan harganya lebih murah, akhirnya saya coba kombinasikan menjadi berbagai jenis kue,” ujar Emi Atikah saat ditemui di rumah produksinya.

Setelah adonan diolah dan dimasak, setiap kue diberi beragam topping seperti keju dan variasi lainnya agar tampil lebih menarik sekaligus menambah cita rasa. Meski terbilang belum lama dipasarkan, aneka kue ubi ungu ini langsung mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya kalangan anak muda dan pecinta kuliner.
Selain tampilannya yang cantik, kue berbahan dasar ubi ungu juga dinilai lebih sehat. Ubi ungu dikenal kaya serat dan antioksidan, serta dianggap baik untuk membantu menjaga kestabilan gula darah.
Salah seorang pembeli, Shella Prasetia, mengaku menyukai olahan kue berbahan ubi ungu tersebut. “Rasanya lebih enak dan alami. Manisnya lebih terasa, santannya juga kerasa. Yang paling saya suka itu nona manis karena gurih dan lumer,” tuturnya.
Tak hanya diminati masyarakat umum, aneka kue ubi ungu produksi Emi juga banyak dipesan oleh sejumlah rumah sakit di Kabupaten Ponorogo. Kue-kue tersebut kerap disajikan untuk tenaga medis maupun pasien karena dinilai lebih aman dan memiliki nilai gizi yang baik.
“Kami memang bekerja sama dengan beberapa rumah sakit. Untuk pasien biasanya dipilihkan kue yang variatif, berbahan alami, dan tinggi serat. Ubi ungu nilai nutrisinya cukup tinggi sehingga lebih sehat,” jelas Emi.
Dalam sehari, Emi Atikah mampu memproduksi sedikitnya 1.500 buah aneka kue ubi ungu. Setiap kue dijual dengan harga mulai Rp2.500 hingga Rp3.500 per buah. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis potensi lokal mampu memberikan nilai ekonomi tinggi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.(ega).
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Buyung
