Ratusan Sekolah di Magetan Rusak, Dikpora Prioritaskan Perbaikan Kerusakan Sedang dan Berat
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 54
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Peristiwa robohnya bangunan gudang di SDN 2 Bendo, Kecamatan Bendo, pada Minggu (12/4/2026) menjadi pengingat serius akan kondisi infrastruktur pendidikan di Kabupaten Magetan yang masih memprihatinkan. Gudang sekolah yang sudah tua itu ambruk usai diguyur hujan deras, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Menanggapi kejadian tersebut, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Magetan menegaskan bahwa kerusakan bangunan sekolah masih terjadi di banyak titik dan membutuhkan penanganan bertahap.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dikpora Magetan, Irawan, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 171 sekolah jenjang SD dan SMP yang mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, hingga berat.
“Jumlahnya sekitar seratus tujuh puluh satu sekolah, baik SD maupun SMP, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani secara bertahap,” ujarnya usai meninjau gudang SDN 2 Bendo yang roboh, Senin (13/4/2026).
Menurut Irawan, kejadian di SDN 2 Bendo dipicu oleh faktor cuaca ekstrem serta kondisi bangunan yang sudah tua. Ia menegaskan, bangunan yang roboh merupakan gudang yang tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, sehingga tidak mengganggu aktivitas siswa.
Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam penanganan.
“Yang paling penting adalah memastikan lingkungan sekolah aman dan tidak membahayakan siswa. Bangunan yang berisiko harus segera diamankan,” tegasnya.
Dikpora Magetan menerapkan skala prioritas dalam perbaikan, dengan mendahulukan bangunan yang mengalami kerusakan sedang dan berat. Sementara kerusakan ringan ditangani melalui pemeliharaan oleh masing-masing sekolah.
Pada tahun 2025, pemerintah telah merealisasikan program rehabilitasi dari anggaran pusat (APBN) untuk 14 SD dan 2 SMP. Sementara pada tahun 2026, pihaknya kembali mengusulkan perbaikan untuk sekitar 25 SD dan 15 SMP, meski masih menunggu proses lanjutan dari pemerintah pusat.
“Karena jumlahnya cukup banyak, maka penanganan dilakukan bertahap sesuai prioritas. Kami juga masih menunggu proses administrasi dari pusat untuk usulan tahun ini,” jelas Irawan.
Ia juga mengimbau pihak sekolah agar aktif memperbarui data kondisi sarana dan prasarana melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik), terutama di tengah musim penghujan yang rawan memicu kerusakan bangunan.
“Data harus terus di-update, khususnya kondisi sarana prasarana. Ini penting agar penanganan bisa cepat dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Saat ini, pascarobohnya gudang di SDN 2 Bendo, proses pembersihan material telah dilakukan dan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





