
Sinergia | Magetan – Sebuah video yang memperlihatkan teguran dari seorang pedagang kepada wisatawan di kawasan wisata Telaga Sarangan, Magetan, viral di media sosial. Video tersebut memicu perhatian publik terkait aturan jual beli di destinasi wisata unggulan Jawa Timur tersebut.
Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat sekelompok wisatawan perempuan yang tengah menyantap nasi pecel di tepi danau. Tiba-tiba, seorang diduga pedagang menghampiri mereka dan mempertanyakan asal-usul makanan yang mereka beli.
Meski waktu kejadian tidak disebutkan secara pasti, percakapan dalam bahasa Jawa mengindikasikan adanya keberatan dari pedagang karena wisatawan membeli makanan dari penjual keliling, bukan dari kios resmi.
Menanggapi kejadian ini, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan, Eka Raditya, mengonfirmasi bahwa insiden itu memang terjadi di kawasan Telaga Sarangan. Ia menyebut bahwa situasi tersebut merupakan dampak dari kompleksitas sosial-ekonomi yang ada di kawasan wisata tersebut.
“Telaga Sarangan ini kawasan yang kompleks. Di dalamnya ada wisata, pemukiman, dan ribuan pelaku usaha. Jadi wajar jika terjadi gesekan,” ungkap Eka saat dihubungi pada Senin (04/08/2025).
Menurut Eka, lebih dari 4.000 orang bergantung pada sektor ekonomi di Sarangan, baik sebagai pedagang tetap, pedagang keliling, maupun pelaku jasa wisata lainnya. Namun, tidak semua aktivitas ekonomi diatur melalui regulasi pemerintah daerah. Banyak aturan yang hanya berdasar pada kesepakatan komunitas.
“Kejadian kemarin itu lebih karena miskomunikasi. Setiap pelaku usaha punya kebutuhan masing-masing. Kami akan menindaklanjutinya dengan musyawarah antar paguyuban supaya tidak mengganggu kenyamanan pengunjung,” tegasnya.
Disbudpar Magetan berkomitmen melakukan mediasi melalui musyawarah rutin yang melibatkan seluruh elemen pelaku usaha di kawasan Telaga Sarangan. Ini termasuk pedagang, pengelola perahu wisata, hingga jasa transportasi lokal.
Tujuannya, lanjut Eka, agar seluruh pihak memahami perannya masing-masing dan kejadian serupa tak terulang kembali. “Kami ingin menciptakan iklim wisata yang nyaman untuk semua pihak, terutama bagi wisatawan yang datang ke Sarangan,” tutupnya.
Kusnanto – Sinergia