
Sinergia | Magetan – Peringatan Hari Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan 2025 di Kabupaten Magetan berlangsung semarak. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Magetan menggelar acara di Aula Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Selasa (23/09/2025), dengan agenda pembagian 300 paket gizi bagi anak-anak PAUD, TK, dan SD.
Acara ini dihadiri Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, serta jajaran Rektorat Universitas PGRI Madiun (Unipma). Momen tersebut juga menjadi awal kerja sama Disnakan dengan Unipma dalam pengelolaan limbah peternakan. Limbah kandang nantinya diolah menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga dan pupuk organik bagi tanaman warga.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan plakat yang diberikan kepada kelompok ternak Desa Jabung, Kecamatan Panekan, serta kelompok ternak Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo. Wakil Bupati bersama jajaran juga meninjau langsung lokasi program biogas dan rumah pupuk tersebut.
Selain program lingkungan, Disnakan turut meluncurkan bantuan bedah kandang bagi warga kurang mampu yang memiliki potensi beternak, bantuan untuk peternak ayam petelur, serta pengenalan teknologi embrio transfer.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan, Nur Haryani, menjelaskan rangkaian kegiatan Bulan Bakti Peternakan ini sudah berjalan sejak awal September. Sejumlah agenda yang digelar antara lain vaksinasi PMK, vaksinasi rabies, pembagian vitamin, obat cacing, serta paket gizi untuk anak-anak.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin masyarakat semakin mengenal potensi besar sektor peternakan. Peternakan adalah penopang ketahanan pangan nasional, sehingga peternak perlu terus termotivasi. Apalagi kita baru saja melewati wabah PMK yang berdampak pada populasi ternak,” ujar Nur Haryani.
Menurutnya, kerja sama dengan Unipma memberi warna baru dalam pemanfaatan limbah peternakan. Limbah yang selama ini dianggap tidak berguna justru bisa bernilai tinggi bila dikelola.
“Biogas bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara rumah pupuk bermanfaat bagi pertanian warga. Harapannya kelompok ternak semakin teredukasi,” tambahnya.
Nur Haryani juga menekankan pentingnya memperkenalkan teknologi embrio transfer. Teknologi reproduksi ini menghasilkan anakan sapi unggul dari indukan berkualitas, meskipun membutuhkan biaya lebih besar.
“Ini bagian dari upaya meningkatkan populasi sapi pasca-wabah PMK. Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi modern juga bisa diterapkan di tingkat peternak,” jelasnya.
Dengan berbagai program ini, Disnakan Magetan berharap sektor peternakan lokal semakin berkembang, mampu meningkatkan kesejahteraan peternak, serta mendukung ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
Kusnanto – Sinergia