
Sinergia | Kota Madiun – Aliansi BEM Madiun menggelar Aksi Simbolik September Hitam sebagai bentuk gerakan kesadaran terhadap pentingnya menegakkan nilai-nilai demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia (HAM) pada Kamis (26/09/2025). Aksi ini menjadi refleksi kolektif mahasiswa atas berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi di Indonesia, sekaligus momentum untuk menegaskan komitmen terhadap keadilan sosial.
Momen ini juga menyerukan semangat perjuangan dan menegaskan kembali 17+8 Tuntutan Rakyat sebagai arah gerakan mahasiswa hari ini. Selain itu, menjadi ruang refleksi terhadap kondisi demokrasi dan penegakan hukum yang dinilai masih lemah.
Ismail Hamdan, Presiden Mahasiswa STIKES Bakti Husada Madiun sekaligus Koordinator Lapangan Aksi, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar simbolik, melainkan seruan moral bagi seluruh elemen bangsa.
“September Hitam bukan hanya peringatan, tapi pengingat bahwa bangsa ini tidak boleh abai terhadap luka sejarahnya. Tugas kita sebagai mahasiswa adalah memastikan negara tidak menutup mata atas pelanggaran HAM, dan terus mendesak keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegas Ismail.
Aliansi BEM Madiun membacakan Pernyataan Sikap dan Tuntutan, yang berisi enam poin utama diantaranya menuntut negara untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia, tanpa tebang pilih, dan menyeret aktor intelektual serta pelaku lapangan ke meja pengadilan. Menolak segala bentuk impunitas yang diberikan kepada pelaku pelanggaran HAM.
“Mendesak pemerintah untuk menjamin hak korban dan keluarga korban melalui pemulihan, reparasi, dan rehabilitasi yang bermartabat.Menyerukan agar tragedi kemanusiaan tidak lagi terulang dengan memperkuat demokrasi, supremasi hukum, dan perlindungan HAM. Mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk tetap kritis, peduli, dan bersolidaritas dalam melawan lupa serta memperjuangkan keadilan,” tegasnya.
Mahasiswa menilai tanpa keberanian menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu, bangsa ini akan terus berjalan pincang dalam sejarahnya. Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis untuk menjadi penjaga nurani rakyat.
“Kami berdiri di sini bukan untuk nostalgia, tapi untuk menagih janji kemanusiaan. Selama keadilan belum ditegakkan, suara mahasiswa tidak akan pernah padam,” pungkasnya.
Aksi ini dihadiri oleh sekitar 150 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Madiun, di antaranya STIKES Bakti Husada Madiun, Universitas Merdeka (UNMER) Madiun, STAIM Madiun, STKIP Widya Yuwana Madiun, Universitas Muhammadiyah Madiun, dan Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Kehadiran lintas kampus ini menunjukkan kuatnya solidaritas mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
Tim Liputan – Sinergia