
Sinergia | Ngawi – Kasus dugaan keracunan makanan kembali menimpa siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Rabu (26/11/2025). Kejadian yang berulang ini memicu kekhawatiran mendalam dari para wali murid. Kecemasan muncul terutama dari para orang tua siswa yang menjalani perawatan di Puskesmas Gemarang.
Mereka menilai insiden keracunan tak lagi bisa dianggap sepele karena menyangkut keselamatan anak-anak. Muntiani, wali murid SMPN 2 Kedunggalar, mengaku terpukul setelah dua anaknya mengalami sakit perut dan muntah-muntah usai menyantap hidangan MBG di sekolah. Ia tak menyangka program yang disebut-sebut memberi nutrisi tambahan justru memunculkan persoalan baru.
“Menurut saya, program ini lebih baik dihentikan dulu. Untuk urusan makanan, saya bisa memastikan anak-anak saya mendapatkan bekal yang layak setiap hari,” tuturnya dengan suara cemas.
Ia juga menyampaikan bahwa sejak awal sudah kurang setuju dengan pelaksanaan MBG, terlebih setelah mendengar kasus keracunan di sejumlah daerah. Karena itu, ia menegaskan tidak akan mengizinkan anak-anaknya kembali mengonsumsi hidangan MBG jika program tersebut tetap diterapkan.
“Kalau program ini berjalan lagi, anak-anak saya tidak akan saya perbolehkan ikut makan. Soal pilihan wali murid lain, itu urusan masing-masing,” katanya.
Kecemasan juga dirasakan Husen, wali murid lain yang anaknya masih duduk di kelas I SD. Ia baru mengetahui kondisi putrinya setelah mendapat kabar dari pihak sekolah bahwa anaknya sedang ditangani tenaga medis.
“Waktu diberi tahu kalau anak saya sampai harus diinfus, saya benar-benar kaget. Sebagai orang tua tentu saja saya merasa takut. Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan di Puskesmas Gemarang, beberapa siswa sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik. Namun, sebagian lainnya masih mendapatkan perawatan intensif, termasuk pemberian oksigen dan obat-obatan untuk mengatasi gejala keracunan yang muncul.(Nan/Krs).