Minggu, 8 Nov 2026
Trending Tags

Jamasan Wayang dan Gamelan di Magetan, Wujud Penghormatan terhadap Warisan Seni Leluhur

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
  • visibility 259
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Jamasan wayang kulit jadi tradisi rutin saat bulan Suro. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Bulan Suro atau Muharram identik dengan berbagai tradisi budaya masyarakat Jawa. Salah satu yang masih lestari hingga kini adalah tradisi jamasan, yakni kegiatan membersihkan dan merawat benda-benda pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Jika umumnya jamasan dilakukan pada keris, tombak, pedang, maupun pusaka peninggalan keluarga, tradisi serupa justru diterapkan pada ratusan wayang kulit dan seperangkat gamelan di Sanggar Seni dan Edukasi Sapto Puspo Budoyo, Desa Ngujung, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan.

Tradisi tahunan ini menjadi agenda rutin yang digelar setiap bulan Suro. Tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan koleksi seni, jamasan juga dimaknai sebagai upaya melestarikan budaya dan menghargai karya para leluhur yang telah diwariskan lintas generasi.

Pimpinan Sanggar Seni dan Edukasi Sapto Puspo Budoyo, Sigit Saptonugroho, menjelaskan bahwa jamasan wayang dan gamelan merupakan bagian dari tradisi budaya Jawa yang terus dipertahankan oleh sanggar. Kegiatan tersebut diawali dengan slametan sederhana sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar proses perawatan berlangsung lancar.

“Jamasan wayang dan gamelan ini dilakukan setiap bulan Muharram atau bulan Suro. Tujuannya untuk melestarikan dan merawat wayang maupun gamelan yang ada di sanggar seni ini,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).

Setelah prosesi doa bersama, wayang-wayang yang sebelumnya tersimpan di dalam kotak kayu dikeluarkan satu per satu. Wayang kemudian diangin-anginkan atau dijemur secukupnya agar kondisinya tetap terjaga. Selanjutnya, debu dan kotoran yang menempel dibersihkan menggunakan kuas halus.

Menurut Sigit, penggunaan kuas halus dipilih karena material dan cat pada wayang kulit sangat sensitif terhadap perubahan cuaca maupun perlakuan yang kasar. Cara tersebut dinilai paling aman untuk menjaga tekstur dan warna wayang agar tidak mudah rusak.

“Wayang kulit memiliki karakter yang sensitif. Karena itu pembersihannya dilakukan secara hati-hati menggunakan kuas halus agar tekstur cat tetap terjaga,” katanya.

Tak hanya wayang, seperangkat gamelan milik sanggar juga mendapat perawatan khusus. Gamelan dibersihkan menggunakan batu hijau atau watu ijo untuk menghilangkan kusam sekaligus mengembalikan kilau permukaannya.

“Dengan menggunakan watu ijo, gamelan menjadi lebih kinclong. Selain tampak terawat, kualitas suara saat ditabuh juga tetap nyaring,” jelasnya.

Saat ini Sanggar Seni dan Edukasi Sapto Puspo Budoyo memiliki sekitar 250 wayang kulit yang tersimpan dalam dua kotak koleksi. Sebagian besar merupakan wayang lawas yang dibuat pada era 1950-an hingga 1960-an. Koleksi tersebut masih digunakan dalam berbagai pementasan seni yang digelar sanggar.

Keberadaan wayang-wayang berusia puluhan tahun tersebut menjadikannya bukan sekadar alat pertunjukan, melainkan juga bagian dari jejak sejarah perkembangan seni tradisional Jawa. Oleh sebab itu, perawatan rutin melalui jamasan dinilai penting agar koleksi tetap lestari dan dapat dinikmati generasi mendatang.

Lebih dari sekadar membersihkan benda seni, jamasan memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Jawa, kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap para leluhur yang telah menciptakan karya budaya dengan penuh ketekunan dan nilai spiritual. Melalui jamasan, masyarakat diajak untuk tidak melupakan akar budaya sekaligus menjaga warisan yang telah ditinggalkan.

“Filosofinya adalah menghormati karya para leluhur. Wayang merupakan warisan nenek moyang yang harus dirawat dan dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal budaya serta kesenian tradisional,” tutur Sigit.

Ia berharap tradisi jamasan tidak hanya menjaga kondisi fisik wayang dan gamelan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk terus mencintai budaya lokal. Dengan demikian, warisan seni tradisional Jawa dapat tetap hidup di tengah perkembangan zaman dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi masa depan.

Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, tradisi jamasan di Sanggar Seni dan Edukasi Sapto Puspo Budoyo menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui pertunjukan besar. Merawat, membersihkan, dan menghargai peninggalan leluhur pun merupakan bentuk nyata menjaga identitas budaya bangsa agar tetap lestari sepanjang masa. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bus Gunung Harta Terbakar di Tol Madiun-Nganjuk, 30 Penumpang Selamat

    Bus Gunung Harta Terbakar di Tol Madiun-Nganjuk, 30 Penumpang Selamat

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Sebuah bus tingkat milik PO Gunung Harta jurusan Jakarta–Jember ludes terbakar di KM 631 ruas Tol Madiun–Surabaya, tepatnya di wilayah Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Sabtu (1/8/2026) dini hari. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut, meski seluruh badan bus hangus dilalap api. Bus Volvo bernomor polisi […]

    Bagikan
  • Ribuan Santri Di Ponorogo Gelar Sholat Gaib Untuk Korban Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

    Ribuan Santri Di Ponorogo Gelar Sholat Gaib Untuk Korban Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Ribuan santri dan santriwati dari Pondok Pesantren Assyafi’iyyah, Durisawo, Ponorogo, menggelar sholat gaib dan doa bersama, Rabu (01/10/2025). Kegiatan ini ditujukan untuk mendoakan korban runtuhnya bangunan lantai tiga Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang roboh saat proses pengecoran pada Selasa (30/09/2025). Sedikitnya 1.200 santri memadati masjid pesantren setelah sholat dzuhur berjamaah. […]

    Bagikan
  • Serunya Pelajar Ikuti Lomba Panahan Tradisional di Ponorogo

    Serunya Pelajar Ikuti Lomba Panahan Tradisional di Ponorogo

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Puluhan pelajar dari berbagai kota di se-Karesidenan Madiun memadati Lapangan Nongkodono, Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/07/2025). Mereka antusias mengikuti lomba panahan tradisional yang menjadi agenda tahunan dan selalu ramai peminat. Kejuaraan ini unik karena seluruh peserta diwajibkan menggunakan busur tradisional, tanpa alat bidik modern. Busur hanya mengandalkan tali […]

    Bagikan
  • PHK Massal, Serikat Pekerja PT GWI Desak Dialog dengan Manajemen

    PHK Massal, Serikat Pekerja PT GWI Desak Dialog dengan Manajemen

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun — Ratusan buruh PT Global Way Indonesia (GWI), produsen bola resmi Piala Dunia 2022, terancam kehilangan pekerjaan setelah perusahaan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Serikat pekerja mendesak manajemen mempercepat perundingan untuk menjamin kepastian nasib karyawan. Ketua Serikat Pekerja PT GWI Federasi Serikat Buruh Independen, Sunardi, menyebut sekitar 800 lebih […]

    Bagikan
  • Deklarasi Damai Perguruan Silat di Magetan, Cegah Konflik Perguruan Pencak Silat

    Deklarasi Damai Perguruan Silat di Magetan, Cegah Konflik Perguruan Pencak Silat

    • calendar_month Selasa, 22 Apr 2025
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Magetan – Dalam upaya mencegah potensi bentrokan antar perguruan pencak silat, Pemerintah Kabupaten Magetan bersama Polres Magetan dan Kodim 0804/Magetan memfasilitasi kegiatan Deklarasi Damai Perguruan Pencak Silat se-Kabupaten Magetan yang dilangsungkan di Pendopo Surya Graha Magetan, Senin (21/04/2025). Kegiatan ini sekaligus dirangkaikan dengan momen Halal Bihalal Forkopimda Magetan bersama IPSI dan para […]

    Bagikan
  • Terduga Pelaku Pembunuhan Masih Dibawah Umur, Ini Langkah Dinsos Kota Madiun

    Terduga Pelaku Pembunuhan Masih Dibawah Umur, Ini Langkah Dinsos Kota Madiun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Peristiwa berdarah di Jalan Jolorante Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur menyisakan persoalan sosial, khususnya soal anak. Pasalnya, terduga pelaku berinisial MRA yang melakukan penusukan terhadap Verind Wibowo Putra (19) pada Kamis (01/01/2026) lalu masih berusia 16 tahun atau dibawah umur. Terduga pelaku telah diamankan Satreskrim Polres Madiun […]

    Bagikan
expand_less