Sepi Peminat, SDN 1 Setono Ponorogo Akhirnya Ditutup
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 46
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — SDN 1 Setono, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, resmi ditutup pada Juli 2026. Penutupan dilakukan setelah jumlah siswa di sekolah tersebut terus mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir.
Sebelum ditutup, SDN 1 Setono hanya memiliki enam siswa. Mereka terdiri atas masing-masing dua siswa kelas IV, V, dan VI. Sementara itu, kelas I hingga III praktis tidak memiliki siswa.
Carik Kelurahan Setono, Handry Reza Pratama, mengatakan minimnya jumlah siswa terjadi karena jumlah pendaftar baru terus menyusut. Bahkan, ketika hanya ada satu atau dua calon siswa, orang tua biasanya disarankan mempertimbangkan sekolah lain yang memiliki jumlah siswa lebih banyak.
“Kalau diterima nanti kasihan, satu orang atau dua orang. Akhirnya dari orang tua menghendaki untuk dipindah ke sekolah yang jumlah siswanya memadai,” ujar Handry.
Menurut Handry, kondisi tersebut membuat keberadaan SDN 1 Setono semakin sulit dipertahankan. Padahal, sekolah tersebut merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri di wilayah Kelurahan Setono.
Pihak kelurahan mengaku menyayangkan penutupan tersebut. Berbagai upaya sebelumnya telah dilakukan untuk mendorong masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka di SDN 1 Setono. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan orang tua.
Handry menyebut sebagian orang tua lebih memilih sekolah lain yang dinilai memiliki jumlah siswa lebih banyak atau dianggap lebih favorit.
Selain pilihan sekolah, lokasi SDN 1 Setono yang berada di tepi jalan raya juga disebut menjadi salah satu pertimbangan orang tua. Padatnya lalu lintas membuat sebagian wali murid khawatir terhadap keselamatan anak ketika harus menyeberang jalan atau beraktivitas di sekitar sekolah.
Setelah ditutup, para siswa yang tersisa dipindahkan ke sekolah lain. Di antaranya ke SDN 1 Singosaren dan SDN 1 Japan.
Salah satu siswa yang terdampak penutupan adalah Dafa Putra Pratama. Siswa kelas V tersebut sebelumnya bersekolah di SDN 1 Setono dan kini melanjutkan pendidikan di SDN 1 Japan.
Dafa mengaku senang setelah pindah sekolah karena bisa mendapatkan lebih banyak teman dibandingkan sekolah sebelumnya.
“Senang. Karena temannya banyak,” kata Dafa.
Dafa mengaku jumlah teman di sekolah lamanya memang jauh lebih sedikit. “Iya,” ujarnya ketika ditanya mengenai kondisi tersebut.
Kini, bangunan SDN 1 Setono masih berdiri. Namun, tidak lagi digunakan untuk aktivitas belajar mengajar.
Penutupan sekolah tersebut menjadi gambaran menurunnya jumlah siswa di sekolah dasar negeri di wilayah tersebut. Berkurangnya pendaftar dan kecenderungan orang tua memilih sekolah lain membuat keberadaan sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit semakin sulit dipertahankan. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez



