Dinkes Sebut Belum Ada Kasus ‘Super Flu’ H3N2 di Madiun
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 35
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun memastikan belum menemukan kasus influenza A H3N2 yang belakangan ramai disebut sebagai “super flu”. Hingga Kamis (24/9/2026), laporan dari puskesmas, rumah sakit, maupun masyarakat belum menunjukkan adanya kasus tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujianto, mengatakan pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus di wilayah Kabupaten Madiun.
“Untuk Kabupaten Madiun sendiri sampai saat ini belum ada kasus super flu tersebut,” kata Dodik.
Kewaspadaan Dinkes meningkat menyusul temuan influenza A H3N2 di sejumlah daerah di Indonesia. Berdasarkan laporan pengawasan influenza dan COVID-19 Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026, H3N2 Subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan tercatat memiliki proporsi terbesar, masing-masing 24 persen.
Pada pekan ke-36, dari 185 spesimen yang diperiksa secara nasional, sebanyak 86 spesimen positif influenza. Rinciannya, delapan kasus influenza A H3N2, 76 influenza A H1N1Pdm09, dan dua influenza B Victoria.
Dodik menegaskan, H3N2 pada dasarnya merupakan bagian dari influenza. Sebutan “super flu” lebih merujuk pada karakter penyebarannya yang dinilai lebih cepat.
“Sebenarnya hampir sama. Hanya saja penyebarannya lebih cepat. Variannya masih termasuk influenza,” ujarnya.
Gejalanya juga tidak jauh berbeda dengan influenza pada umumnya, seperti demam, batuk, dan pilek. Demam dapat mencapai lebih dari 38 derajat Celsius, disertai kondisi tubuh yang sangat lelah.
“Yang paling ekstrem adalah munculnya kelelahan yang sangat berat,” kata Dodik.
Masa inkubasi diperkirakan sekitar tiga hari. Dengan penanganan dan pemberian antivirus sesuai indikasi medis, penderita umumnya dapat pulih dalam sekitar tujuh hari.
Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi H3N2. Kepastian diagnosis harus melalui pemeriksaan laboratorium.
“Kalau ingin menegakkan diagnosis secara pasti, perlu dilakukan pemeriksaan swab. Sampelnya kemudian dikirim ke BBLK Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Dinkes Kabupaten Madiun juga memperketat pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem tersebut digunakan untuk mendeteksi lebih awal kemungkinan peningkatan penyakit berdasarkan laporan fasilitas pelayanan kesehatan.
Dodik memastikan, sampai saat ini belum terlihat lonjakan kasus yang mengarah pada kejadian luar biasa (KLB) influenza di Kabupaten Madiun.
“Kalau terjadi lonjakan kasus, misalnya demam tinggi di beberapa wilayah atau puskesmas, kondisi tersebut akan terdeteksi. Sampai saat ini belum ada lonjakan seperti itu di Kabupaten Madiun,” tegasnya.
Meski belum ditemukan kasus H3N2, Dinkes mengimbau masyarakat tidak lengah. Pencegahan terutama diperlukan saat berada di tempat ramai atau ketika kondisi tubuh sedang tidak fit.
Masyarakat diminta menggunakan masker saat keluar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta menghindari kerumunan ketika sedang sakit.
Vaksinasi influenza juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mencegah infeksi.(Tov).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Byg





