Kayu Limbah Disulap Jadi Kerajinan Antik Bernilai Seni Tinggi
- account_circle Ega Patria
- calendar_month Senin, 3 Mar 2025
- visibility 62
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kab. Ponorogo – Kayu limbah yang kerap diabaikan banyak orang disulap menjadi kerajinan antik bernilai seni tinggi di tangan Heri Ismakut, warga Desa Mojomati, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Dengan teknik ukir tradisional dan pewarnaan khas tempo dulu, karya-karya Heri tidak hanya memperkenalkan kembali seni lama yang nyaris punah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi.
Di rumah sederhana miliknya, pria berusia 45 tahun ini mengolah kayu limbah hasil pembongkaran rumah hingga sisa meubel di sekitar desa. Kayu yang tak terpakai itu kemudian diukir menjadi berbagai ornamen bernuansa Jawa, seperti Blawong – papan tempat keris – dan Blencong, lampu minyak yang biasa digunakan dalang saat pentas wayang kulit di masa lalu.
“Awalnya saya melihat teman bisa, terus saya belajar. Soalnya banyak kayu limbah yang gak terpakai. Alhamdulillah banyak yang suka,” ujar Heri, Senin (3/2/2025).

Proses pembuatan setiap kerajinan membutuhkan ketelitian tinggi dan memakan waktu hingga satu minggu. Harga karya Heri bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan ukiran.
Tidak hanya digemari warga lokal, kerajinan kayu buatan Heri juga menembus pasar nasional hingga ke Bali dan Jakarta.
“Saya sering mengambil barang di sini, soalnya unik dan mungkin satu-satunya,” kata Gigih Prasetiawan, salah satu pembeli.
Lebih dari sekadar kerajinan tangan, karya Heri menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan mampu mengubah sesuatu yang dianggap tak berguna menjadi bernilai tinggi, sekaligus menjaga warisan seni ukir tradisional agar tak punah ditelan zaman.
Patria – Sinergia
- Penulis: Ega Patria





